Wednesday, August 11, 2010

A.S. Laksana, Jawa Pos, 22 November 2009

Ruwetnya Menceritakan Demokrasi

Menulis cerita bertema demokrasi rupa-rupanya sama sulitnya dengan menulis pornografi. Setidaknya begitulah yang saya alami. Nanti akan saya bicarakan lebih lanjut, tetapi ada satu urusan yang perlu saya jelaskan lebih dulu, yakni menyangkut email yang saya terima beberapa hari lalu.

Dari sejumlah email yang menanggapi surat terbuka untuk presiden yang saya tulis minggu lalu, ada satu yang berterus terang mengingatkan saya: ''Saya suka membaca surat Anda. Hanya saja saya khawatir Anda sedang menjadi Don Kisot yang merasa bertempur melawan raksasa tetapi sesungguhnya hanya bertarung melawan kincir angin.''

Saya ucapkan terima kasih kepada teman baru saya itu atas surat yang ia kirim dan atas gambaran yang ia berikan kepada saya. Begitulah, sebaiknya Anda juga jangan sampai lupa berterima kasih, ini masalah adab.

Selanjutnya saya katakan bahwa saya sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Don Kisot yang kehebatannya terus dikenang orang selama empat abad hingga hari ini. Lagi pula saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa presiden kita adalah kincir angin. Ia seorang kepala negara, karena itu setiap gerak-geriknya, kesigapan atau kelambanan responsnya, tidaklah tergantung pada hembusan angin. Dan, yang terpenting, ia tak bisa didorong-dorong, apalagi dipaksa, dan ia sendiri sudah mengatakan hal itu. ''Jangan sampai saya sebagai presiden didorong, dipaksa untuk mengambil langkah yang bukan kewenangan saya,'' katanya.

Saya hormati sepenuhnya sikap ogah didorong itu, meskipun saya tidak yakin bahwa rekomendasi Tim 8 adalah sekumpulan saran ngawur yang dimaksudkan agar presiden melanggar kewenangan. Setahu saya, tim itu beranggotakan orang-orang mumpuni dalam bidang hukum dan para intelektual yang dipilih sendiri oleh presiden. Maka, pernyataan presiden itu memang terasa sungguh mengherankan.

Selain tidak bisa didorong-dorong, saya juga sangat yakin bahwa presiden bukanlah orang yang bisa dikekang. Maksud saya, seandainya Anda menyarankan agar ia jangan mau mengikuti rekomendasi Tim 8, mungkin kita akan mendengar jawaban, ''Saya jangan dilarang-larang.'' Jadi, saya menyimpulkan bahwa presiden kita lebih senang didoakan. Karena itu muncullah sekumpulan pendoa yang menamakan diri Majelis Dzikir SBY.

Begitulah penjelasan saya. Dengan demikian urusan Don Kisot dan kincir angin ini bisa dianggap selesai dan saya akan beralih ke sebuah peristiwa lain di hari Senin lalu. Hari itu saya terlibat diskusi seharian dengan teman-teman penulis dan aktivis LSM untuk membicarakan penulisan cerpen bertema demokrasi. Acara diselenggarakan oleh Demos, sebuah LSM yang bergiat melakukan penelitian tentang kehidupan demokrasi di masyarakat, dan berlangsung menyenangkan.

Lan Fang, penulis Surabaya, datang dari kampung halaman membawa cerita-cerita tentang pemilu dan pilkada di Jawa Timur yang membuat kami tertawa, tetapi sebenarnya ia menyampaikan realitas yang getir. Oka Rusmini datang pagi-pagi dari Bali dan antusias menyerap jalannya diskusi. Miranda dari Jogja, sama khusyuknya. Linda Christanty terbang dari Aceh dengan kehendak baik untuk merinci pelbagai kemelencengan dan memikirkan pelurusannya. Puthut E.A. menghidupkan diskusi dengan memberikan ilustrasi-ilustrasi bagaimana kita bermasyarakat dan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang praktik-praktik penyelenggaraan negara. Peserta tertua adalah Martin Aleida; ia 66 tahun tetapi tampak seperti orang yang memalsukan umurnya. Saya pikir sikap kritisnya justru membuat ia tampak 20 tahun lebih muda. Rudy Gunawan dari Voice of Human Right memiliki peran besar untuk menghadirkan teman-teman dalam forum ini dan sejak pagi cerewet sekali mengecek saya sudah sampai di mana.

Saya masih merambat di jalur yang padat ketika semua teman sudah berkumpul, berangkat dari rumah dengan kesegaran maksimum dan tiba di tempat pertemuan dengan penampilan yang tampak 20 tahun lebih tua. Lesu dan kocar-kacir. Dan di sana saya hanya bisa mengajukan pertanyaan yang, kalaupun penting, mungkin cuma penting bagi diri saya sendiri, ''Kenapa PSSI tidak mampu mendapatkan ketua umum baru meskipun Nurdin Halid waktu itu jelas-jelas berstatus narapidana untuk kasus korupsi?''

Pertanyaan itu malah membuat teman-teman tertawa, tetapi seingat saya tidak ada jawaban yang saya peroleh. Saya menyukai sepakbola dan itu pertanyaan penting bagi saya. Tetapi, sudahlah, negara kecil bernama PSSI itu tentunya lebih tahu pemimpin macam apa yang sesuai dengan watak dasar para warganya.

Tanpa niat untuk ngotot membahas PSSI, saya menyesuaikan diri dengan gairah teman-teman dalam membicarakan demokrasi. Sebenarnya, begitu saya menerima undangan beberapa hari sebelum acara, dan menyanggupi datang, saya sudah nyicil memikirkan cerpen demokrasi model bagaimana yang bisa saya tulis -yang nantinya akan diterbitkan sebagai sebuah antologi karya para hadirin. Dan, itu benar-benar susah sebab pada saat yang sama saya sedang memikirkan kemungkinan menulis cerita-cerita pornografi. Pikir saya, cerita beginian akan lebih mudah digarap, dan Anda tahu, cerita pornografi punya kemungkinan disambut meriah oleh khalayak pembaca dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari pengamat yang menyukai kelugasan dan ketelanjangan.

Tetapi saya keliru, dan Anda juga akan keliru besar jika beranggapan bahwa menulis pornografi adalah perkara mudah. Kesulitan pertama muncul ketika saya berniat menggambarkan adegan yang melibatkan seorang masokhis. Inilah adegan yang saya bayangkan:

''Ayo, Bram, ayunkan cambukmu. Ayunkan cambukmu, Sayang," kata perempuan itu. Bram termangu-mangu. Ia khawatir perempuan itu sedang memerangkapnya dan akan melaporkannya ke Mabes Polri atau ke Komnas HAM esok hari dengan tuduhan melakukan penyiksaan pada perempuan telanjang.

Lihatlah, itu tidak menarik dan akan gagal sebagai pornografi. Mungkin lebih memikat sekiranya saya menggabungkan pornografi dan politik. Saya bisa membuat adegan yang halus tetapi jelas arahnya. Misalnya:

''Hari ini aku tak bisa,'' kata lelaki itu dalam pembicaraan telepon dengan perempuan yang memintanya datang.

''Harus bisa, Say, ini menyangkut keselamatan negara. Selain itu aku tahu tubuhmu sudah rindu dipijit. Dan, jangan lupa, durenku sudah lama menantimu, lho," bujuk perempuan di seberang.

Itu juga cerita pornografi yang tidak menjanjikan apa-apa.

Ketika saya tengah ruwet berpikir bolak-balik antara cerita demokrasi dan cerita pornografi, pembantu saya yang sudah seminggu cuti di kampungnya mengirimkan pesan singkat ke telepon selular saya.

''Bu, q mau brngkt ke jakarta, tp q blom tau kapan."

Ia pasti salah mengirim pesan ke telepon saya. Segera saya berpura-pura menjadi istri saya dan menjawab pesan singkat itu dengan kalimat sesimpatik mungkin:

''Kau sehat? Berangkatlah ke Jakarta kalau kau pikir waktunya tepat. Berangkatlah dengan perasaan senang."

''Mungkin q brngkt hari minggu.''

''Bagaimana kalau hari Sabtu sehingga Minggu kau sudah ada di rumah?''

''Klo hari sabtu q tidak tau bisnya ada ato tidak.''

''Kalau begitu terserah q sajalah. Kalau q lebih senang berangkat hari Minggu, silakan q berangkat hari Minggu."

''Wkkkk... ;-p.''

Saya semakin mumet memikirkan seperti apa cerpen terbaik yang bisa mendorong tumbuhnya demokrasi. Harap diketahui, di rumah sendiri pun saya gagal mendorong demokratisasi. Pembantu saya itu -yang dengan enak bisa menggunakan kata ganti orang ''q'' untuk menyebut dirinya dan menyiratkan kesan sederajat dalam komunikasi melalui sms- sesungguhnya tetap lebih nyaman duduk nglesot di lantai. Maka, tidak ada jalan lain kecuali saya harus menerapkan demokrasi terpimpin. Tetapi itu pun tak jalan. Saya tetap tidak pernah bisa memaksanya duduk di kursi, dan ketika saya mengajaknya duduk makan bersama di meja makan, kelihatannya ia langsung panas dalam. (*)

*) A.S. Laksana, cerpenis, aslaksana@yahoo.com

Ruwetnya Menceritakan Demokrasi
Menulis cerita bertema demokrasi rupa-rupanya sama sulitnya dengan menulis pornografi. Setidaknya begitulah yang saya alami. Nanti akan saya bicarakan lebih lanjut, tetapi ada satu urusan yang perlu saya jelaskan lebih dulu, yakni menyangkut email yang saya terima beberapa hari lalu.

Dari sejumlah email yang menanggapi surat terbuka untuk presiden yang saya tulis minggu lalu, ada satu yang berterus terang mengingatkan saya: ''Saya suka membaca surat Anda. Hanya saja saya khawatir Anda sedang menjadi Don Kisot yang merasa bertempur melawan raksasa tetapi sesungguhnya hanya bertarung melawan kincir angin.''

Saya ucapkan terima kasih kepada teman baru saya itu atas surat yang ia kirim dan atas gambaran yang ia berikan kepada saya. Begitulah, sebaiknya Anda juga jangan sampai lupa berterima kasih, ini masalah adab.

Selanjutnya saya katakan bahwa saya sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Don Kisot yang kehebatannya terus dikenang orang selama empat abad hingga hari ini. Lagi pula saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa presiden kita adalah kincir angin. Ia seorang kepala negara, karena itu setiap gerak-geriknya, kesigapan atau kelambanan responsnya, tidaklah tergantung pada hembusan angin. Dan, yang terpenting, ia tak bisa didorong-dorong, apalagi dipaksa, dan ia sendiri sudah mengatakan hal itu. ''Jangan sampai saya sebagai presiden didorong, dipaksa untuk mengambil langkah yang bukan kewenangan saya,'' katanya.

Saya hormati sepenuhnya sikap ogah didorong itu, meskipun saya tidak yakin bahwa rekomendasi Tim 8 adalah sekumpulan saran ngawur yang dimaksudkan agar presiden melanggar kewenangan. Setahu saya, tim itu beranggotakan orang-orang mumpuni dalam bidang hukum dan para intelektual yang dipilih sendiri oleh presiden. Maka, pernyataan presiden itu memang terasa sungguh mengherankan.

Selain tidak bisa didorong-dorong, saya juga sangat yakin bahwa presiden bukanlah orang yang bisa dikekang. Maksud saya, seandainya Anda menyarankan agar ia jangan mau mengikuti rekomendasi Tim 8, mungkin kita akan mendengar jawaban, ''Saya jangan dilarang-larang.'' Jadi, saya menyimpulkan bahwa presiden kita lebih senang didoakan. Karena itu muncullah sekumpulan pendoa yang menamakan diri Majelis Dzikir SBY.

Begitulah penjelasan saya. Dengan demikian urusan Don Kisot dan kincir angin ini bisa dianggap selesai dan saya akan beralih ke sebuah peristiwa lain di hari Senin lalu. Hari itu saya terlibat diskusi seharian dengan teman-teman penulis dan aktivis LSM untuk membicarakan penulisan cerpen bertema demokrasi. Acara diselenggarakan oleh Demos, sebuah LSM yang bergiat melakukan penelitian tentang kehidupan demokrasi di masyarakat, dan berlangsung menyenangkan.

Lan Fang, penulis Surabaya, datang dari kampung halaman membawa cerita-cerita tentang pemilu dan pilkada di Jawa Timur yang membuat kami tertawa, tetapi sebenarnya ia menyampaikan realitas yang getir. Oka Rusmini datang pagi-pagi dari Bali dan antusias menyerap jalannya diskusi. Miranda dari Jogja, sama khusyuknya. Linda Christanty terbang dari Aceh dengan kehendak baik untuk merinci pelbagai kemelencengan dan memikirkan pelurusannya. Puthut E.A. menghidupkan diskusi dengan memberikan ilustrasi-ilustrasi bagaimana kita bermasyarakat dan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang praktik-praktik penyelenggaraan negara. Peserta tertua adalah Martin Aleida; ia 66 tahun tetapi tampak seperti orang yang memalsukan umurnya. Saya pikir sikap kritisnya justru membuat ia tampak 20 tahun lebih muda. Rudy Gunawan dari Voice of Human Right memiliki peran besar untuk menghadirkan teman-teman dalam forum ini dan sejak pagi cerewet sekali mengecek saya sudah sampai di mana.

Saya masih merambat di jalur yang padat ketika semua teman sudah berkumpul, berangkat dari rumah dengan kesegaran maksimum dan tiba di tempat pertemuan dengan penampilan yang tampak 20 tahun lebih tua. Lesu dan kocar-kacir. Dan di sana saya hanya bisa mengajukan pertanyaan yang, kalaupun penting, mungkin cuma penting bagi diri saya sendiri, ''Kenapa PSSI tidak mampu mendapatkan ketua umum baru meskipun Nurdin Halid waktu itu jelas-jelas berstatus narapidana untuk kasus korupsi?''

Pertanyaan itu malah membuat teman-teman tertawa, tetapi seingat saya tidak ada jawaban yang saya peroleh. Saya menyukai sepakbola dan itu pertanyaan penting bagi saya. Tetapi, sudahlah, negara kecil bernama PSSI itu tentunya lebih tahu pemimpin macam apa yang sesuai dengan watak dasar para warganya.

Tanpa niat untuk ngotot membahas PSSI, saya menyesuaikan diri dengan gairah teman-teman dalam membicarakan demokrasi. Sebenarnya, begitu saya menerima undangan beberapa hari sebelum acara, dan menyanggupi datang, saya sudah nyicil memikirkan cerpen demokrasi model bagaimana yang bisa saya tulis -yang nantinya akan diterbitkan sebagai sebuah antologi karya para hadirin. Dan, itu benar-benar susah sebab pada saat yang sama saya sedang memikirkan kemungkinan menulis cerita-cerita pornografi. Pikir saya, cerita beginian akan lebih mudah digarap, dan Anda tahu, cerita pornografi punya kemungkinan disambut meriah oleh khalayak pembaca dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari pengamat yang menyukai kelugasan dan ketelanjangan.

Tetapi saya keliru, dan Anda juga akan keliru besar jika beranggapan bahwa menulis pornografi adalah perkara mudah. Kesulitan pertama muncul ketika saya berniat menggambarkan adegan yang melibatkan seorang masokhis. Inilah adegan yang saya bayangkan:

''Ayo, Bram, ayunkan cambukmu. Ayunkan cambukmu, Sayang," kata perempuan itu. Bram termangu-mangu. Ia khawatir perempuan itu sedang memerangkapnya dan akan melaporkannya ke Mabes Polri atau ke Komnas HAM esok hari dengan tuduhan melakukan penyiksaan pada perempuan telanjang.

Lihatlah, itu tidak menarik dan akan gagal sebagai pornografi. Mungkin lebih memikat sekiranya saya menggabungkan pornografi dan politik. Saya bisa membuat adegan yang halus tetapi jelas arahnya. Misalnya:

''Hari ini aku tak bisa,'' kata lelaki itu dalam pembicaraan telepon dengan perempuan yang memintanya datang.

''Harus bisa, Say, ini menyangkut keselamatan negara. Selain itu aku tahu tubuhmu sudah rindu dipijit. Dan, jangan lupa, durenku sudah lama menantimu, lho," bujuk perempuan di seberang.

Itu juga cerita pornografi yang tidak menjanjikan apa-apa.

Ketika saya tengah ruwet berpikir bolak-balik antara cerita demokrasi dan cerita pornografi, pembantu saya yang sudah seminggu cuti di kampungnya mengirimkan pesan singkat ke telepon selular saya.

''Bu, q mau brngkt ke jakarta, tp q blom tau kapan."

Ia pasti salah mengirim pesan ke telepon saya. Segera saya berpura-pura menjadi istri saya dan menjawab pesan singkat itu dengan kalimat sesimpatik mungkin:

''Kau sehat? Berangkatlah ke Jakarta kalau kau pikir waktunya tepat. Berangkatlah dengan perasaan senang."

''Mungkin q brngkt hari minggu.''

''Bagaimana kalau hari Sabtu sehingga Minggu kau sudah ada di rumah?''

''Klo hari sabtu q tidak tau bisnya ada ato tidak.''

''Kalau begitu terserah q sajalah. Kalau q lebih senang berangkat hari Minggu, silakan q berangkat hari Minggu."

''Wkkkk... ;-p.''

Saya semakin mumet memikirkan seperti apa cerpen terbaik yang bisa mendorong tumbuhnya demokrasi. Harap diketahui, di rumah sendiri pun saya gagal mendorong demokratisasi. Pembantu saya itu -yang dengan enak bisa menggunakan kata ganti orang ''q'' untuk menyebut dirinya dan menyiratkan kesan sederajat dalam komunikasi melalui sms- sesungguhnya tetap lebih nyaman duduk nglesot di lantai. Maka, tidak ada jalan lain kecuali saya harus menerapkan demokrasi terpimpin. Tetapi itu pun tak jalan. Saya tetap tidak pernah bisa memaksanya duduk di kursi, dan ketika saya mengajaknya duduk makan bersama di meja makan, kelihatannya ia langsung panas dalam. (*)

*) A.S. Laksana, cerpenis, aslaksana@yahoo.com

A.S. Laksana, Jawa Pos, 11 Oktober 2009

Teledor

Bagaimana cara terbaik untuk menyikapi terjadinya bencana alam? Untuk kasus Padang, maskapai penerbangan kita melakukan langkah sigap dengan menaikkan harga tiket pesawat. Kita menganggap itu sebagai sebuah tindakan yang tidak mengenal belas kasih. Tetapi, dalam cara berpikir maskapai, bencana alam agaknya tidak beda dengan Lebaran. Yakni, ada arus besar penumpang menuju Padang dan sebaliknya, penumpang akan sepi ketika mereka terbang meninggalkan tempat yang baru dihantam bencana itu. Jadi, menurut pihak maskapai, menaikkan harga tiket ke sana wajar.

Bagi orang-orang yang bersimpati, di luar maskapai penerbangan, mereka bisa mengirimkan bantuan dalam bentuk apa saja: bisa uang, bahan pangan, pakaian, buku-buku, dan sebagainya. Belum lama ini, saya menyaksikan berita di televisi yang menyebutkan bahwa ada bantuan pangan untuk korban bencana alam Padang yang sudah kedaluwarsa. Dan, jangan marah, sebagian bahan pangan yang sudah kedaluwarsa itu terkemas dalam kardus-kardus yang bertulisan: "Makanan Angkatan Tentera: Rangsum Tempur". Anda kenal bahasanya. Ya, itu berasal dari Malaysia.

Mungkin bencana alam, oleh beberapa pihak, adalah sama belaka dengan kesempatan cuci-cuci gudang. Jika di lemari Anda ada banyak pakaian yang sudah tidak pernah lagi Anda pakai, kirim saja ke sana. Itu kesempatan untuk mendermakan apa yang sudah tidak Anda butuhkan. Jika Anda pengusaha penerbitan dan di gudang Anda ada timbunan buku terbitan beberapa tahun lalu dan sekarang mangkrak, Anda bisa mengosongkan gudang Anda dengan menyalurkan buku-buku itu ke sana. Namun, jika Anda punya makanan yang Anda sendiri sudah tidak bisa lagi memakannya, Anda tidak bisa menganggap orang-orang yang terkena bencana sebagai tempat pembuangan makanan basi.

Sebenarnya, kasus bantuan pangan yang kedaluwarsa juga terjadi dalam bencana tsunami di Aceh dan gempa bumi di Jogjakarta. Tetapi, untuk kejadian kali ini, saya menjadi agak miris. Saya takut pada efek bola salju yang ditimbulkannya. Rasa benci sebagian masyarakat kita kepada Malaysia sedang menguat karena beberapa kasus dan, Anda tahu, dalam sejarah hubungan kedua negara, pernah ada seruan pengganyangan. Dan, sekarang bantuan kedaluwarsa itu diberikan hanya selang sesaat setelah seruan pengganyangan tersebut kembali diteriakkan beberapa waktu lalu.

Mungkin itu keteledoran semata dan bukan kesengajaan. Masalahnya, hampir segala bencana yang menimpa kita sering bermula dari keteledoran. Anda tahu, keteledoran mengelola pendidikan, misalnya, mengakibatkan munculnya pelbagai bentuk bencana di wilayah ini. Mulai pengadaan gedung sekolah, penyelenggaraan ujian, sampai pada munculnya kasus-kasus bunuh diri pada siswa-siswa yang menunggak pembayaran. Keteledoran dalam menangani keuangan mengakibatkan berkali-kali uang negara dirampok dan kita sulit mentas dari kemiskinan.

Begitu juga halnya di lapangan sepak bola. Keteledoran dalam mengurus persepakbolaan mengakibatkan para pemain sepak bola kita tidak mampu meningkatkan kualitas permainan mereka di level yang lebih tinggi. Tetapi, karena sepak bola harus menghibur penonton, para pemain kita mencoba menghibur dengan cara lain, yakni dengan cara sering-sering melakukan tawuran atau memukul wasit jika tidak puas atas hasil pertandingan atau kecewa terhadap permainan sendiri yang tak bisa berkembang.

Dan, keteledoran dalam menegakkan hukum? Itu tampaknya menjadi salah satu masalah terbesar kita sepanjang waktu. Lima tahun lalu, karena tidak percaya pada pengadilan kita, rakyat Australia pernah meradang dan mengungkit-ungkit bantuan yang mereka berikan kepada korban bencana alam Aceh dan Nias. "Kami menyesal telah memberikan sumbangan," teriak mereka.

Penyesalan tersebut muncul karena Schapelle Corby, seorang perempuan cantik warga Australia, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Denpasar untuk kasus penyelundupan narkoba. Selain menyesali sumbangan yang telanjur diberikan, mereka menggugat pemerintah negeri mereka, "Jangan biarkan si cantik Corby menjadi bulan-bulanan di negeri orang. Bagaimana mungkin pemerintah tega membiarkan anak cantiknya diadili di negeri orang dan oleh pengadilan yang tak bisa dipercaya?"

Di sejumlah media pada waktu itu, kita bisa menyaksikan foto si cantik Corby yang sedang menangis. Kalau si Corby ini bertampang kucing garong, mungkin tidak akan banyak orang yang terlalu peduli dia dijatuhi hukuman seberat apa pun. Tetapi lihatlah, dia secantik kucing persia. Tidakkah tetes air mata itu membuat hati kita tersayat?

Pemerintah Australia mencoba meredakan kekalapan rakyatnya dengan mengatakan bahwa bagaimanapun mereka tidak bisa mencampuri kedaulatan hukum negara lain dan putusan pengadilan tidak didasarkan pada teriakan orang-orang yang marah. Tetapi, untuk menenteramkan rakyatnya, pemerintah Australia pun bertindak cepat. Dua pengacara, Mark Trowell dan Phillip Laskaris, diminta untuk turun gunung menangani kasus Corby.

Dua orang itu kemudian bertandang ke Bali, makan malam bersama pengacara Lili Lubis dan ketua tim pembela Corby, Vasu Rasiah. Tiga minggu setelah pertemuan tersebut, muncullah berita di Sydney Morning Herald yang didasarkan pada cerita dua pengacara Australia itu tentang isi pertemuan mereka di Bali. Menurut Trowell, pihak pengacara Indonesia menyarankan agar pemerintah Australia menyediakan dana 500 ribu dolar Australia untuk kepentingan "melobi".

"Saya mendesak mereka untuk mengatakan kepada saya apa yang mereka lihat sebagai landasan terbaik untuk mengajukan banding," kata Trowell. Namun, menurut pengakuan Trowell, Vasu menyatakan, "Lupakan alasan-alasan yang baik untuk banding. Apa yang harus Anda lakukan adalah memasukkan banding begitu saja. Dan, jika mempunyai uang untuk menyuap hakim, Anda akan memenangi banding."

Saya yakin waktu itu, kalaupun Vasu menolak pernyataan tersebut, orang-orang Australia pasti lebih memercayai pemberitaan Sydney Morning Herald. Dan, saya punya polling untuk Anda. Silakan Anda cermati kalimat ini: "Jika punya uang untuk menyuap hakim, Anda menang." Pertanyaannya: Apakah menurut Anda kalimat tersebut benar atau salah?

Rasa-rasanya saya tahu jawaban Anda. Tetapi, itu polling yang tidak berguna. Sebab, apa pun jawaban Anda, apa pun suara Anda, mungkin ia tidak akan mengubah apa-apa. Beberapa hari lalu saya menerima e-mail dari salah seorang pembaca surat kabar ini yang menyuarakan kecemasannya terhadap nasib KPK. Dan, jika Anda punya kecemasan serupa, saya khawatir itu akan menjadi kecemasan yang mubazir. Orang-orang yang teledor hanya membutuhkan suara Anda saat berebut kursi, dan setelah itu sudah. Bahkan, sekadar mengingatkan, bahwa biaya pelantikan anggota DPR terlalu besar saja, suara Anda tidak pernah didengar. (*)

*) A.S. Laksana, cerpenis, aslaksana@yahoo.com

A.S. Laksana, Jawa Pos, 06 Desember 2009

Sejarah Nabi Adam dan Raja-Raja


DI
buku Babad Tanah Jawi, Nabi Adam diturunkan di tanah Jawa dan kelak menurunkan raja-raja di sini. Ia berputra Nabi Sis; Sis berputra Nurcahya; Nurcahya berputra Nurasa; Nurasa berputra Sanghyang Wening; Sanghyang Wening berputra Sanghyang Tunggal; Sanghyang Tunggal berputra Batara Guru.

Batara Guru punya ''simpanan'' putri Kerajaan Mendang, dan dari situlah bermula skandal asmara. Salah seorang di antara lima anaknya, yakni Batara Wisnu, kelayapan ke negeri Mendang dan jatuh cinta kepada ''simpanan'' ayahnya. Ia mengawini putri simpanan itu (Batara Wisnu tidak tahu ayahnya punya simpanan; ia menduga bahwa ayahnya adalah suami yang lurus-lurus saja). Ayahnya marah. Batara Wisnu kemudian pergi meninggalkan istri yang baru dikawininya dan bertapa di bawah beringin yang berjajar tujuh batang.

Dan seterusnya, babad ini menuturkan sejarah para raja dan skandal demi skandal yang terjadi turun-temurun. Setelah silsilah Nabi Adam, kisah dibuka dengan Prabu Watu Gunung, penguasa Giling Wesi, yang sedang tidur-tiduran di kursi gading. Bekas luka di kepalanya terlihat oleh Dewi Sinta, istri tua sang raja. Dari situ Dewi Sinta tahu bahwa suaminya tidak lain adalah anaknya sendiri, yang ia pukul dengan centong nasi di waktu kecil dan tak pulang-pulang sejak itu. Atas akal-akalan Dewi Sinta, yang menyarankan suaminya memperistri bidadari, Prabu Watu Gunung dibinasakan oleh Batara Wisnu. Dewi Sinta terbebas dari rumah tangga yang ruwet.

Lalu, Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Sesuruh, pangeran negeri Galuh yang mengembara ke Timur karena kerajaannya ditaklukkan oleh Pajajaran. Di antara raja-raja penerusnya, ada salah satu yang kawin dengan Putri China, dan itu membikin istri tuanya, Putri Cempa, cemburu. Lantas, Putri China diberikan kepada Arya Damar dengan pesan, ''Jangan ditiduri dulu karena sedang mengandung.''

Arya Damar setuju. Ia membawa Putri China ke Palembang dan menjadi raja di sana. Anak dalam kandungan Putri China lahir dan kelak menyeberang lagi ke tanah Jawa untuk mendirikan Kerajaan Demak. Nama anak itu Raden Patah.

Pada waktu itu di Majapahit ada tumenggung bernama Wila Tikta. Ia berputra seorang pejudi bernama Jaka Said. Jika kalah berjudi, Said menjadi penyamun. Oleh Sunan Bonang, pemuda itu disuruh bertapa di tepi kali. Karena itulah, ia selanjutnya dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Riwayat hidupnya pernah dibikin film dan makamnya sekarang banyak dikunjungi orang.

Tahun berganti, dinasti-dinasti datang dan pergi, skandal datang dan datang lagi. Jaka Tingkir mengalahkan 40 buaya dan menjadi menantu sultan Demak. Di negara Demak ini ada seseorang yang mahir menangkap petir, yaitu Ki Ageng Selo. Ia menangkap petir dan melepaskan lagi tangkapannya. Karena dilepaskan itulah si petir bisa berumah tangga dan punya anak. Anda tahu, namanya Gundala Putra Petir.

Adapun mengenai Jaka Tingkir, ia akhirnya menjadi raja dan memindahkan kerajaannya ke Pajang. Anak angkatnya, Raden Ngabehi Loring Pasar, menaklukkan Pajang sepeninggal Jaka Tingkir. Pemuda Loring Pasar ini mendirikan Mataram dan mengubah namanya menjadi Panembahan Senopati karena sudah tidak lagi tinggal di utara pasar. Untuk memperkuat pemerintahannya, Senopati memperistri jin penguasa lautan, yakni Nyai Roro Kidul. Bu Nyai memegang hak monopoli atas warna hijau. Konon, ia tak suka jika Anda pergi ke Pantai Parangtritis mengenakan pakaian warna hijau. Bisa dilalap ombak, Sampean.

Seiring dengan berkembangnya intrik dan gairah berkuasa, Mataram pecah menjadi dua; dan masing-masing pecahan itu pecah lagi menjadi dua. Trunojoyo melakukan pemberontakan terhadap Mataram dan akhirnya bisa dibujuk untuk menyerah. Setelah tunduk, ia dibunuh; hatinya dicacah dan dibagi-bagikan kepada para bupati dan dimakan bersama-sama. Kepalanya dijadikan keset.

Janda Trunojoyo, setelah bisa mengatasi kesedihannya, punya suami lagi dan pasangan baru ini punya anak bernama Sukra, yang tampan sejak kecil dan tumbuh menjadi pemuda paling tampan di Kartasura. Raden Adipati Anom, pangeran yang tidak tampan, memerintahkan agar Sukra ditangkap. ''Masukkan semut ke dalam matanya,'' titahnya. Berdasar adegan ini, Goenawan Mohamad menulis puisi panjang berjudul Penangkapan Sukra.

Kompeni masuk, lalu berkuasa. Inggris masuk, berkuasa juga. Mereka sama-sama suka mabuk dan saling menghina. Orang-orang pribumi mendapatkan keuntungan besar atas kehadiran dua rombongan pemabuk itu: mereka menjadi penghina bayaran. Jika kompeni ingin menghina Inggris, mereka membayar pribumi. Jika orang Inggris ingin menghina kompeni, mereka membayar pribumi. Seorang China pembuat arak menggangsir terowongan bersama dua temannya untuk mengambil roti dan barang-barang berharga yang ada di dalam benteng kompeni. Mereka tersandung dan mati terbakar oleh obor yang mereka bawa.

Babad Tanah Jawi berhenti sampai tahun 1647. Mengenai pemerintahan raja-raja selanjutnya, mau tak mau saya harus melanjutkan sendiri dengan versi saya.

Singkat kata, meskipun Belanda kalah melulu di Eropa dan bolak-balik diduduki -oleh Spanyol, Jerman, dan Perancis- kompeni tetap menguasai Nusantara dan mengontrol separo dunia dari Batavia. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen mati sakit perut karena kanal-kanal di Batavia penuh sampah dan tahi.

Asia bangkit di paro pertama abad ke-20. Tentara-tentara kate datang dan mengaku-aku sebagai saudara tua, tetapi tabiat mereka tak ubahnya saudara tiri dalam cerita-cerita penindasan. Amerika Serikat menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom. Muncul negara baru, Indonesia namanya.

Para bupati dan adipati mula-mula tidak setuju dengan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno membuat kesepakatan bahwa kekuasaan mereka tidak akan diutak-atik di bawah pemerintahan Indonesia. Mereka pun mau mendukung kemerdekaan.

Bung Karno menjadi presiden pertama dan memerintah 21 tahun. Pemerintahannya goyah oleh inflasi dan diruntuhkan oleh peristiwa berdarah. Terjadi pemotongan nilai mata uang saat itu: seribu rupiah menjadi satu rupiah. Pak Harto disambut sebagai pemimpin baru. Ia memerintah 32 tahun, tenang dan mencekam. Timor Timur dicaplok dan menjadi masalah terus-menerus. Di pengujung pemerintahannya, para aktivis diculik, sebagian dilepas dan sebagian ditumpas. Beberapa mahasiswa dan demonstran tewas ditembak.

Ketika Pak Harto dipaksa turun, Pak Habibie meneruskan pemerintahannya. Timor Timur merdeka; skandal Bank Bali meledak pada masa ini dan kita mendengar istilah ''Golkar Hitam'' dan ''Golkar Putih'', entah apa bedanya. Pelaku-pelaku penting dalam skandal itu tak mendapatkan sanksi. Para politikus tetap menjadi politikus. Golkar Hitam dan Putih melebur lagi diam-diam menjadi ''Golkar Baru''.

Lalu, Gus Dur memerintah, hanya dua tahun, tetapi riuh sekali dan banyak guyon. Tukang pijit masuk istana dan menjadi orang penting dalam pemerintahan; skandal Bulog melemahkan posisinya. Presiden Gus Dur diturunkan di tengah jalan dan diganti oleh Wakil Presiden Megawati. Putri Bung Karno ini sangat pendiam ketika menjadi presiden; ia sama sekali tidak mewarisi kepintaran berpidato bapaknya. Dalam pemilihan presiden langsung yang digelar untuk kali pertama, ia kalah oleh SBY.

Pak Beye memerintah lima tahun bersama Jusuf Kalla. Banyak bencana alam, mulai tsunami di Aceh dan Nias, gempa di mana-mana, tanah longsor, gempa lagi, dan seterusnya. Ada juga kejadian lucu, yakni digembar-gemborkannya proyek blue energy -nama Indonesianya ''Minyak Indonesia Bersatu''- dan padi Super Toy.

Sampailah kita pada hari ini, sedang mengunyah-ngunyah skandal Bank Century. Sebelumnya, kita disuguhi fabel ''cicak lawan buaya''. Selamat menikmati. (*)

*) A.S. Laksana , cerpenis, aslaksana@yahoo.com

A.S. Laksana, Jawa Pos, 15 November 2009

Surat Terbuka untuk Presiden

PAK Presiden:

Ini adalah surat pertama saya kepada Anda dan sesungguhnya saya ingin menulis surat kepada Anda setiap hari. Saya pernah membaca surat terbuka macam ini yang ditulis oleh kolumnis Art Buchwald yang jenaka ketika Richard Nixon menjadi Presiden Amerika Serikat. Waktu itu Buchwald mengatakan, ''Pak Presiden, dengan surat ini saya ingin menyampaikan kepada Anda bagaimana cara memimpin negara. Berbahagialah Anda karena saya tidak memungut biaya sama sekali untuk nasihat yang saya berikan, sebab saya merasa bahwa sudah menjadi tugas saya sebagai warga negara untuk membantu Presiden mengatasi pelbagai masalah yang muncul hari ini.''

Itu sikap yang baik dan, terus-terang, saya ingin menirunya. Karena itu, saya juga tidak akan memungut biaya atas apa yang saya sampaikan kepada Anda melalui surat ini.

Yang pertama, Pak Presiden, saya pikir sudah saatnya bagi Anda untuk berhenti memikirkan pencitraan diri. Sulitnya menjadi presiden yang terlalu menjaga citra adalah Anda bisa menjadi tampak lamban karenanya. Hal yang sama dialami oleh seorang perempuan yang terlalu menjaga penampilan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di salon untuk menyasak rambut atau memotong kuku atau melentikkan bulu mata, hanya demi sebuah keputusan sepele: menghadiri kondangan.

Saya kira Anda perlu sedikit rileks, tetapi jangan pula terlalu guyon. Seorang presiden yang senang guyon akan menimbulkan masalah tersendiri, bagi dirinya dan bagi negeri yang dipimpinnya. Gus Dur pernah membuktikan itu. Saya kadang senang dengan guyonannya, tetapi para politisi di gedung DPR pada masa itu pastilah tidak suka dibilang sebagai sekumpulan anak TK (Sekarang banyak orang yang membenarkan pernyataan Gus Dur itu, terutama karena sampai hari ini perilaku anggota DPR masih membuat orang tidak bahagia.).

Namun, terlalu diam juga bisa merepotkan. Kita telah mengalami masa pemerintahan oleh presiden yang sepertinya mengamalkan petuah ''diam adalah emas'' dan Anda sendiri pernah melakukan pembelotan pada presiden yang seperti itu. Peristiwa tersebut menyebabkan Ibu Mega sampai hari ini terus menampakkan ketidaksukaannya terhadap Anda, bahkan sampai pada sikap dan kekeraskepalaan politik yang terasa tidak masuk akal. Tapi itu urusan Ibu Mega sendiri, bukan urusan bangsa ini.

Yang lebih perlu Anda perhatikan, Pak Presiden, rakyat sudah memilih Anda untuk kali kedua. Saran saya, sungguh-sungguhlah menjadi sahabat mereka. Ini saran yang serius, sebab beberapa waktu sebelum kampanye pemilihan presiden, saya membaca kisah Pak Mayar, seorang petani kecil di daerah Gunung Putri, Bogor. Dua hal dalam kisah itu sangat mengesankan saya. Pertama, Pak Tani itu punya nama yang bagus, ''Mayar''. Dalam bahasa Jawa berarti mudah (meskipun hidupnya sama sekali tidak mudah). Kedua, di rumah Pak Mayar ini Anda pernah mengadakan pertemuan untuk menggalang dukungan semasa kampanye pemilihan presiden yang pertama dulu.

Menurut apa yang saya baca, di rumah itu Anda menjanjikan tiga hal jika Anda terpilih menjadi presiden. Yaitu pengaspalan jalan, pembangunan sekolah, dan pengadaan saluran irigasi. Dan, akhirnya Anda menjadi presiden. Dua janji pertama terwujud, yang ketiga belum. Jalanan diaspal dan sebuah SMA dibangun, tetapi tak ada pembangunan saluran irigasi.

Dengan dua janji terpenuhi, setidaknya Anda bisa mengatakan bahwa Pak SBY tidak melupakan sama sekali janjinya. Namun, ada yang meleset di sini. Pemenuhan dua dari tiga janji itu ternyata nyaris tak ada manfaatnya bagi Pak Mayar dan orang-orang yang selevel dengannya. Jalanan beraspal hanya berfungsi semakin memperlancar proses pencaplokan tanah warga kepada orang-orang kaya dari kota. Mereka membeli lahan para petani dan membangun perumahan di sana. Sedangkan gedung SMA tak pernah bisa dimasuki karena terlalu mahal. Bahkan cucu Pak Mayar pun tak pernah bisa bersekolah di sana. Dan, berapa uang masuk yang dianggap terlalu mahal itu? ''Satu setengah juta rupiah,'' kata Pak Mayar. ''Saya tidak mampu menyediakan uang sebanyak itu.''

Mari kita akui bersama bahwa uang sejumlah itu memang sangat besar bagi sebagian besar rakyat di negeri ini. Sejumlah orang bahkan rela mati demi berebut uang derma Rp 20 ribu. Selanjutnya, mudah-mudahan tidak ada kemelesetan semacam itu lagi dalam upaya Anda memenuhi janji, dalam skala luas, bagi rakyat yang telah memilih Anda.

Terakhir, saya berharap Anda sigap merespons orang-orang yang saat ini menuntut Anda membuktikan jargon kampanye Anda ''menegakkan hukum tanpa pandang bulu''. Mereka sekarang meminta Anda bersikap tegas untuk mengamankan KPK, institusi yang telah memberikan kredit tersendiri pada citra positif pemerintahan Anda, dari upaya-upaya untuk melemahkan fungsinya.

Tentang hal-hal yang menyangkut upaya pelemahan KPK, saya ingin mengingatkan bahwa Anda harus mewaspadai omongan-omongan di belakang Anda. Ketika besan Anda, Aulia Pohan, dijadikan tersangka oleh KPK karena kasus korupsi, saya ingat pernah mendengar guyonan dari seorang teman, yang dekat dengan lingkaran Anda, bahwa tak boleh ada kejadian seperti ini. Katanya, kalau besan saja dijadikan tersangka, ''moral pasukan'' bisa runtuh, dong. Yang dimaksudkan pasukan di sini, Anda pasti tahu, adalah orang-orang yang berjejalan mendukung Anda --dengan dana, tenaga, maupun manuver politik. ''Harus dikasih peringatan KPK ini,'' kata teman saya itu.

Sekarang, dengan KPK dibikin sempoyongan seperti ini, saya tidak heran jika ada anggapan bahwa ''pasukan'' yang cemas itu sudah bergerak. Dan saya harus menyampaikan bahwa sikap diam Anda justru akan menguatkan anggapan itu. Apalagi kabarnya ada rekaman lain, saya baca di The Jakarta Post minggu lalu, yakni antara Susno Duadji, para jaksa, dan pejabat-pejabat lain yang menyebut-nyebut ''Blue Sky'' --konon itu nama sandi untuk Ibu Negara-- dalam percakapan telepon mereka mengenai Bank Century.

Saya tidak melarang Anda menjadi orang yang pemaaf. Tetapi jangan sering-sering memberi maaf untuk hal-hal yang tidak mendidik. Pemberian maaf kepada Ong Juliana Gunawan dan Anggodo Widjojo dalam kasus yang Anda sebut sendiri sebagai ''pencatutan nama'' sungguh merupakan tindakan yang bisa membuat pikiran semakin gelap. Kasus lain, saya tetap tidak habis pikir bagaimana Zaenal Maarif, yang membuat Anda marah dua atau tiga tahun lalu karena mengumbar omongan bahwa Anda sudah menikah dan punya anak ketika menjadi taruna Akabri, pada pemilu terakhir bisa banting setir menjadi kader dan caleg Partai Demokrat.

Sungguh saya tidak paham model rekrutmen politik di negeri ini. Terlalu banyak kutu di tubuh partai-partai dan mereka bisa meloncat-loncat dari satu partai ke partai lain dengan keringanan yang tak tertahankan. Kalau para kader partai saja tidak peduli dengan konten politik partai-partai mereka, sebetulnya rakyat disuruh memilih apa dalam pemilu?

Pak SBY, saya akan mengakhiri surat ini dengan kalimat menghibur yang menunjukkan bagaimana orang Amerika memandang kualitas presiden-presiden mereka. Penuturan anonim itu berbunyi begini: ''Roosevelt memberi bukti bahwa orang bisa menjadi presiden seumur hidup; Truman memberi bukti bahwa semua orang bisa menjadi presiden; dan Eisenhower memberi bukti bahwa kita tidak memerlukan presiden.''

Saya tidak ingin mengkopi frase terakhir dan mengganti nama Eisenhower dengan siapa pun nama presiden kita. Sesungguhnya yang saya inginkan adalah sebuah frase lain yang memberi bukti bahwa seorang presiden bisa benar-benar menjadi sahabat orang miskin.

Salam dari saya,

A.S. Laksana

*) A.S. Laksana , cerpenis, aslaksana@yahoo.com

A.S. Laksana, Jawa Pos, 03 Januari 2010

Selamat Tidur, Gus...

Gus Dur masuk di benak saya mula-mula sebagai karakter dan sekaligus pemilik gagasan-gagasan kontroversial. Ia berada di luar arus umum dan senantiasa mengingatkan kita akan adanya suara dan cara pandang yang berbeda. Ia pun menampilkan itu semua melalui dirinya sendiri. Pada masa itu, saya suka membaca tulisan-tulisannya tentang apa saja: keislaman, keberagaman, hidup bersama, dan sepak bola. Saya menyukai sepak terjangnya.

Beberapa waktu kemudian ia masuk lagi ke benak saya sebagai pemilik keajaiban. Dadang RHs, kawan saya yang betahun-tahun memajang poster besar Gus Dur dan Imam Khomeini di kamar kontrakannya seolah-olah keduanya adalah presiden Indonesia di masa Orde Baru, memberi tahu saya bahwa Gus Dur bisa menangkap jelas apa yang dikatakan orang meskipun tidur. ''Saya berkali-kali melihatnya di seminar,'' katanya. ''Ia tidur, bahkan mendengkur, saat orang bertanya. Tetapi, kemudian ia bangun dan bisa menjawab semua yang ditanyakan kepadanya.''

Sesungguhnya banyak cerita lain soal tidurnya yang ajaib tersebut. Misalnya, ia konon tidur di depan parlemen Iran atau mempelajari bahasa Prancis dengan cara tidur di sebelah KH Musthofa Bisri yang saat itu sedang belajar bahasa Prancis. Namun, tidur di seminar itulah yang sering diomongkan orang. Akhirnya, saya pun menyaksikan hal itu berlangsung. Belakangan saya tahu bahwa orang yang memasuki trance hipnotik juga bisa menangkap pesan secara jelas meskipun tidur lelap. Bedanya, Gus Dur memasuki kondisi trance tanpa harus dipandu oleh Romy Rafael atau siapa pun; ia bisa trance kapan mau dan bangun ketika memutuskan bangun, sama mudahnya dengan cara ibu saya menunjukkan kepiawaian membolak-balik tempe di penggorengan.

Dengan dua hal itu -ketidakumuman dan tidur ajaibnya- Gus Dur menjadi magnet yang memikat hasrat saya untuk menempel padanya. Namun, saya bukan santri, bukan pula orang yang mendalami pemikiran-pemikiran agama. Saya pikir satu-satunya yang bisa mendekatkan kami adalah urusan sepak bola. Hanya, saya tidak punya keberanian untuk mendekati Gus Dur dengan modal secekak itu dan berharap agar kami menjadi dekat dengan cara melulu mengajaknya bicara sepak bola.

Mengingat modal saya terlalu tipis untuk mendekatinya, saya akhirnya melupakan saja keinginan itu. Kendati demikian, keinginan untuk menempel Gus Dur tersebut saya kira menjadi sesuatu yang terus-menerus minta diwujudkan. Sampai kemudian, saya menemukan cara yang terbaik menurut saya. Pada 1994 tabloid DeTIK tempat saya bekerja diebredel bersama Tempo dan Editor. Saya pun memiliki waktu longgar karena kejadian tersebut. Saat itu saya memutuskan menulis biografi Gus Dur.

Dengan kecenderungan mengaguminya, saya mulai mengumpulkan bahan yang berupa tulisan-tulisan media tentang dirinya, juga tulisan-tulisan Gus Dur, sebelum melengkapinya dengan mewawancarai sejumlah narasumber, termasuk Gus Dur sendiri. Saya membayangkan akan menulis semacam biografi pemikiran.

Terus terang, selain terpukau oleh orang yang hendak saya tulis, waktu itu saya juga dikuasai pikiran muluk-muluk bahwa buku tersebut akan menjadi sumbangan tersendiri bagi gerakan perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Pikiran saya sepele sekali: Gus Dur adalah simbol perlawanan; dengan menulis biografinya, saya ikut menyebarkan semangat perlawanan.

Saya menulis dengan semangat sampai selesai tiga bab dari sekitar 12 bab yang saya rencanakan. Setelah itu, proses penulisan menjadi tersendat-sendat, sebagian oleh kemalasan dan sebagian oleh keruwetan pikiran saya setelah mewawancarai sejumlah orang. Ketika mendengar pendapat orang-orang yang mengaguminya, saya senang. Ketika mendengar suara yang mengkritiknya, saya puyeng. Begitulah, buku yang saya rencanakan itu terhenti lama di bab tiga.

Saat saya melemah, Saifullah Yusuf -teman saya yang sekarang jadi Wagub Jawa Timur- mengajak saya dolan ke rumah Gus Dur. Saya kadang marah kadang jengkel kepada Saiful. Tetapi, ia selalu datang kepada saya di saat yang tepat. Ia pun selalu bisa menundukkan saya. Saya yakin ia banyak belajar dari Gus Dur dalam soal ini; ia menjadi sopir Gus Dur ke mana-mana dan sering dimarahi juga ketika tampak loyo dan melamun. ''Kita ini sedang melawan rezim yang kuat,'' kata Gus Dur.

Saya ingat perkataan Gus Dur kepada Saiful yang sampai sekarang masih terasa lucu: ''Sing ponakan iki aku opo kowe tho, Ful? (Yang keponakan itu aku apa kamu, Ful?).''

Maka, digandeng oleh Saiful, saya menemui Gus Dur di rumahnya. Kepada pamannya, Saiful melaporkan, ''Ini Sulak, Paklik, yang saya bilang mau menulis buku biografi Sampean.''

Gus Dur mondar-mandir saja di ruang, sesekali mencomot apa yang terhidang di meja makan. ''Buku itu kalau mau ditulis ya pasti tidak selesai,'' katanya tanpa memperhatikan saya sama sekali.

Anda tahu, itu kalimat yang sangat ampuh. Saya pegel mendengarnya. Dalam hati, saya ingin membuktikan bahwa Gus Dur keliru. Saya akan cepat-cepat merampungkan buku itu dan nanti saya tunjukkan kepadanya, ''Buku yang dulu mau ditulis itu sekarang sudah jadi, Gus.''

Tetapi, Gus Dur benar. Buku tersebut tidak pernah jadi; laptop saya dicolong orang.

Bertahun-tahun setelah itu, saya memahami satu hal: Gus Dur adalah seorang penantang yang menakjubkan. Saya kira ia selalu tahu apa tujuan yang hendak ia capai dengan setiap lontaran kalimatnya.

Dalam kasus buku saya, pernyataannya akan selalu benar apa pun hasilnya. Kalau buku saya jadi, ia membuktikan bahwa kalimatnya bekerja efektif untuk membakar harga diri saya. Ia menantang saya dengan caranya dan membuat saya kemropok untuk segera menyelesaikan buku -lihatlah, ia sesungguhnya mendorong saya dengan cara yang tidak saya sadari. Ketika buku itu tidak jadi, apa pun alasannya, ia juga 100 persen benar. Bukankah ia sudah menyampaikan, secara harfiah, bahwa buku yang hendak ditulis pasti tidak selesai?

Saya kira, itu keajaiban Gus Dur yang lain. Ia pelontar jitu yang nyaris selalu tepat sasaran.

Anda akan selalu ingat bagaimana ia dengan enteng melontarkan pernyataan bahwa ia tak tahu beda antara DPR dan anak TK. Anda akan selalu membenarkan ucapan itu setiap kali politikus Senayan menunjukkan tabiat yang membuat Anda gerah atau marah. Ingat juga ketika orang-orang ribut mempersoalkan kesiapan KPU menyelenggarakan pemilu; Gus Dur muncul dengan pernyataan agar pemilu diundur saja karena KPU tidak siap. Saya kira KPU tertantang untuk membuktikan Gus Dur keliru. Pemilu pun diselenggarakan tepat waktu, dengan sekian masalah, dan yang terparah adalah urusan daftar pemilih tetap (DPT).

Terakhir, saya mencatat lontaran jitu Gus Dur dalam skandal Century. Ia bilang, ''Boediono dan Sri Mulyani ditangkap saja. Kalau orang-orang lain yang melakukan itu kan pasti sudah ditangkap.''

Saya sangat menikmati lontaran-lontaran Gus Dur. Memang ada satu dua lontaran yang meleset; ia tidak selalu benar. Salah satu lontaran yang meleset itu, menurut saya, adalah ia menjadi presiden dan terlalu sering mengulang pernyataan, ''Gitu aja kok repot!" Anda tahu, kalimat itu seperti lontaran yang memantul balik dan mengenai dirinya sendiri.

Memang benar-benar repot kok, Gus. Sampean kerepotan sendiri ketika terlalu sering mengatakan, ''Gitu aja kok repot.'' Tetapi, masa itu sudah lewat. Sekarang saya memahami satu hal lagi, yakni Sampean nyaris selalu tepat ketika berada di seberang kemapanan. Oh, begitulah, saya selalu terlambat memahami Sampean. Ketika kini saya merasa agak paham cara Sampean dulu mendorong saya, Sampean sudah pergi. Karena itu, saya hanya bisa berterima kasih untuk pesona yang sudah Sampean hadirkan selama ini.

Saya tak pernah benar-benar bisa menempel Sampean. Jarak antara saya dan Sampean tetap seperti semula. Namun, dengan jarak itu, saya beruntung bisa mempertahankan rasa hormat saya kepada Sampean.

Sugeng kondur, Gus, saya akan selalu kangen Sampean. (*)

*) A.S. Laksana, cerpenis, beralamat di aslaksana@yahoo.com

Sunday, August 8, 2010

Artikel – artikel A.S. Laksana ( contoh artikel )


[ Jawa Pos, 04 April 2010 ]

BAGAIMANA PARA CACAH DIISAP

Pada suatu masa sebelum penjajahan, raja dalam masyarakat Jawa tradisional memiliki kedudukan sebagai pusat ketatanegaraan dan posisinya nyaris bersifat ilahiah. Sementara itu manusia jelata memiliki nilai ekonomis dalam pengertian bahwa ia nyaris serupa dengan binatang ternak. Keduanya, manusia dan ternak, sama-sama bisa diperas. Hanya saja, manusia sedikit lebih unggul dibandingkan dengan kerbau atau kambing atau ayam. Anda tahu, manusia bisa menari, melontarkan tombak, mengayunkan pedang atau parang.

Maka, dengan kelebihan itu, mereka bisa dikerahkan juga untuk berperang atau bekerja bakti atau memberikan dukungan politik demi kepentingan raja dan para bangsawan. Itu semua tidak mungkin diserukan kepada para binatang. Maksud saya, seorang raja atau bangsawan akan tampak kurang waras jika meminta dukungan politik kepada kawanan kerbau dan konco-konconya, atau mengharapkan mereka menari.

Nilai ekonomis rakyat jelata itu bisa kita lihat, misalnya, dengan memperhatikan bagaimana luas tanah diukur. Pada saat itu luas tanah diukur tidak dengan satuan metrik sebagaimana yang kita kenal sekarang. Ia diukur dengan satuan cacah, yakni jumlah orang yang tinggal di atas tanah itu. Raja, sebagai pemilik segalanya, adalah pemilik seratus persen semua bidang tanah di wilayah kekuasaannya. Ia membagi tanahnya menjadi beberapa lungguh atau wilayah dan membagi-bagikannya kepada para priyayi sesuai dengan pangkat kebangsawanan atau tingkat kedekatan bangsawan itu dengan raja. Seorang bangsawan yang sangat dipercaya oleh raja, misalnya, niscaya akan mendapatkan lungguh dengan jumlah cacah yang besar. Hubungan antara cacah dengan raja dan para bangsawan penguasa lungguh adalah hubungan kawula-gusti (patron-klien).

Dan tentu saja para bangsawan zaman dulu berbeda dengan para ''bangsawan'' zaman sekarang. Para ''bangsawan'' zaman sekarang umumnya tidak tahan melihat tanah lapang dan akan buru-buru membangun mal atau apartemen atau lapangan golf atau objek wisata alam (bahkan genangan lumpur pun hendak dijadikan wisata alam, bukan?). Sementara para bangsawan zaman itu umumnya tidak punya minat terhadap tanah. Minat mereka hanya pada seberapa banyak cacah yang mereka dapatkan di atas tanah lungguh mereka.

Saya kira semboyan waktu itu adalah banyak cacah banyak rezeki. Sebab apa gunanya tanah yang luas jika tanpa cacah? Dan sebagaimana ternak yang bisa diperas susunya atau diambil telurnya, para cacah pun bisa dijadikan sumber pendapatan dan sumber kekuatan. Dengan kata lain, mereka adalah sumber legitimasi politik dan sumber upeti. Dalam skema itu, para cacah-lah yang sesungguhnya menyangga tegak dan rubuhnya perekonomian negara.

Belanda mempertahankan pola hubungan kawula-gusti ini dan hanya perlu menekuk raja dan para bangsawan dengan tujuan mendapatkan konsesi-konsesi. Selanjutnya raja, melalui para penguasa lungguh, mempertahankan pola hubungan yang sudah ada demi berjalannya urusan ketatanegaraan dan membayar biaya perlindungan kepada Belanda.

Pada masa pemerintahan ''selingan'' yang berlangsung lima tahun (1811-1816), yaitu ketika Pulau Jawa dikuasai oleh Inggris selama peperangan Napoleon, Thomas Stamford Raffles, gubernur jenderal Inggris, memperkenalkan sistem pajak atau sewa tanah. Sewa tanah ini didasarkan pada prinsip bahwa raja adalah satu-satunya pemilik tanah, karena itu para petani adalah penyewa yang harus membayar sewa tanah kepada raja. Di sini Raffles memikirkan pembayaran pajak itu sebagai tanggung jawab perorangan bagi setiap petani. Ini berbeda dari kebijakan Belanda sejak VOC yang mempercayakan segala urusan dengan para kawula kepada bupati-bupati.

Sistem pajak model Raffles ini diubah lagi setelah Pulau Jawa dikembalikan kepada Belanda. Van den Bosch, pencetus kebijakan Tanam Paksa setelah perekonomian Belanda morat-marit akibat Perang Diponegoro, membebankan lagi urusan pajak tanah kepada desa dan bukan perorangan. Karena itu, kerja sama dengan para priyayi atau bangsawan kembali menjadi penting. Dalam skema ini, van den Bosch menjanjikan gaji tiap bulan untuk para priyayi, tanah milik, dan kedudukan yang dapat diwariskan. Selanjutnya ada tawaran kedua, yakni gaji penuh jika para priyayi melepaskan hak atas tanah mereka kepada Belanda, atau gaji separo jika mereka tetap memilih hak atas tanah.

Hampir seluruh priyayi memilih gaji penuh dan melepaskan hak mereka atas tanah. Dan sejak itulah mereka menjadi orang gajian Belanda sepenuhnya, sebuah posisi yang sesungguhnya menjadikan mereka tanpa kekuatan; sebagai orang gajian mereka bisa dipecat atau dipindahkan ke mana pun oleh Belanda yang menggaji mereka. Dari sini, kita tahu bahwa sejak awal Belanda lebih nyaman berhubungan dengan para penguasa pribumi dan menjadikan mereka kaki tangan untuk berurusan dengan rakyat jelata. Kira-kira inilah prinsip Belanda: ''Biarkan penguasa pribumi mengisap rakyatnya sendiri, dan kita menerima bagian yang harus kita terima.''

Dan, Anda tahu, para penguasa pribumi itu jenjangnya bertingkat-tingkat mulai dari raja, bupati, para bangsawan, dan kepala desa. Dan para cacah-lah yang harus menghidupi mereka. Mereka harus membayar upeti berjenjang untuk menjaga tetap tegaknya kekuasaan di tiap jenjang anak tangga. Di situlah berlangsung pengisapan, sebab hanya rakyat yang memikul beban, sementara negara (kerajaan) tidak menjalankan fungsi minimumnya untuk (1) menjamin adanya tertib hukum, (2) melindungi warganya dari serangan pihak luar, (3) menjamin kesejahteraan, (4) memberikan keadilan.

Begitulah, saya mblusuk ke masa penjajahan karena, ketika masalah pajak menjadi pembicaraan umum, sesungguhnya tidak banyak yang saya ketahui tentang pajak, termasuk seluk-beluk kekayaan para pegawai pajak. Kalaupun saya sedikit-sedikit mengetahuinya, paling itu pengetahuan yang saya dapatkan dari ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman sekolah saya yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) dan bekerja di jawatan perpajakan setelah lulus. Beberapa di antara mereka ada yang mendirikan lembaga konsultan pajak.

Dari teman saya yang konsultan pajak, saya mendengar cerita bahwa mendapatkan uang lima ratus juta rupiah itu sangatlah mudah. Saya berpura-pura tidak terkejut. Lalu ia menjelaskan tentang ''kemudahan'' itu. Ringkasnya begini: jika sebuah perusahaan tersandung perkara dengan pajak dan ia harus melunasi pembayaran, misalnya, sebesar Rp 2 miliar, maka konsultan pajak bisa menjadikan perusahaan tersebut hanya perlu membayar Rp 1 miliar. ''Nah, dari jumlah Rp 1 miliar yang dibayarkan oleh perusahaan itu,'' kata teman saya, ''separonya disetor dan separonya lagi dibagi dengan orang dalam.''

Saya pikir ia bisa membuat buku panduan tentang bagaimana cara mendapatkan Rp 500 juta dalam sehari.

Cerita lain dari teman saya yang lain adalah tentang kedunguan petugas pajak. Katanya, ada seorang petugas pemungut pajak yang kehilangan tas di bus kota. Ia melapor ke polisi karena di tas tersebut ada uangnya Rp 100 juta. ''Ia dungu sekali,'' kata teman saya. ''Masa orang pajak kehilangan Rp 100 juta lapor. Lebih baik ia cari lagi.''

Karena melapor, ia justru kesandung masalah: Bagaimana seorang petugas pajak kelas rendah bisa kehilangan uang Rp 100 juta? Saya tidak menanyakan kepada teman saya apakah petugas dungu ini masuk bui atau bisa membayar untuk mendapatkan kebebasannya.

Dengan bekal dua cerita yang saya dengar dari teman, dan sedikit blusukan membaca sejarah, saya tetap tidak bisa memahami masalah pajak dan masih takjub bagaimana pegawai rendahan seperti Gayus Tambunan bisa mempunyai uang sebesar Rp 28 miliar. Yang bisa saya pahami adalah fakta bahwa kita, sama seperti para cacah yang harus menopang negara, tetap tidak bisa menghindari pajak (karena itu seruan sejuta facebooker untuk memboikot pajak tampaknya merupakan ide yang muskil). Anda tahu, kita dihadang pajak di setiap tikungan. Bahkan Anda sudah otomatis membayar pajak ketika Anda menikmati rokok dan kopi di teras rumah, bukan?

Dan, negara kita, sama juga dengan kerajaan di masa lalu, sampai hari ini tampaknya masih tetap gagal menjalankan empat butir fungsi minimumnya sebagai negara. (*)

*) A.S. Laksana, cerpenis, beralamat di aslaksana@yahoo.com

Sumber: www.jawapos.co.id

Contoh untuk Membaca Cepat

Informasi Umum               

Latar Belakang

Beasiswa telah memainkan peran yang penting di dalam program kerjasama Australia dalam pembangunan di Indonesia, dengan kurang-lebih 11.000 beasiswa yang disediakan selama kurun waktu lebih dari 50 tahun. ADS tetap menjadi komponen penting program ini dengan 350 beasiswa yang ditawarkan pada tahun 2010. Manajemen Program ADS diselenggarakan oleh IDP melalui Kantor Program ADS yang didirikan oleh IDP untuk menjamin administrasi lingkup ADS di Indonesia yang efisien dan efektif.

Setiap tahunnya, Pemerintah Australia mensponsori mahasiswa dari berbagai negara berkembang untuk belajar di Australia melalui Beasiswa Pembangunan Australia (ADS). Program ADS di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia baik di sektor publik maupun swasta, di bidang-bidang pembangunan yang terpilih sebagai prioritas.

Hal ini dicapai melalui penyediaan beasiswa paska sarjana bagi warga negara Indonesia untuk belajar di Australia dan dengan bekerjasama secara erat dengan Pemerintah Indonesia dalam menyampaikan program yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.

Konsisten dengan prinsip yang dianut oleh kebijakan pendidikan dan pelatihan AusAID (Agustus 1996), Program ADS akan dilaksanakan untuk menjamin: kualitas (pada staf program dan prosedur pelaksanaan), transparansi (di dalam proses seleksi), kesamaan dan hak perolehan (di dalam pemberian beasiswa), akses (bagi penerima bantuan terhadap dokumentasi dan informasi beasiswa), dan konsistensi (di dalam administrasi beasiswa).

Tujuan Utama Program ADS adalah:·  
Mendukung institusi publik dan swasta di Indonesia dalam memenuhi tujuan institutional yang telah diidentifikasi dan kebutuhan pelatihan melalui penyediaan pendidikan paska sarjana bagi staf terpilih;
Membantu orang-perseorangan untuk meningkatkan kapasitasnya dalam berkonstribusi bagi berbagai institusi dan profesi di Indonesia melalui penyediaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan paska sarjana di Australia;
Mendampingi alumni Program ADS untuk mempertahankan dan memperbaharui keterampilan akademis dan profesional mereka;
Memberikan pelatihan yang mendukung tujuan pembangunan sumber daya manusia yang dijabarkan di dalam dokumen perencanaan strategis untuk Indonesia yang disusun oleh AusAID; dan
Menyeleksi kandidat berkualitas tinggi yang memiliki kemampuan untuk dapat menyelesaikan studi paska sarjana di Australia dengan kebutuhan perpanjangan waktu yang terbatas, dan dapat berkontribusi bagi pembangunan Indonesia.

Kategori ADS

Beasiswa Pembangunan Australia (ADS) menyediakan kesempatan bagi warga negara Indonesia untuk belajar di Australia pada tingkat PASKA SARJANA. Tiga ratus lima puluh beasiswa direncanakan akan diberikan di tahun 2011 untuk memulai studi pada tahun 2011 / 2012. Kandidat harus memilih bidang studi yang tersedia di antara salah satu dari empat area prioritas pembangunan. Di Indonesia, Program ADS tersedia di dalam tiga kategori: sektor “Public”, “Open” dan “Targeted”.

Pelamar pada Kategori "Public" adalah pegawai departemen Pemerintah, universitas negeri dan BUMN, termasuk pegawai non-PNS. Lamaran tersebut harus terlebih dahulu disetujui oleh divisi pelatihan atau Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) yang terdapat pada tingkat daerah maupun nasional di dalam institusi pelamar sebelum diserahkan.

Pelamar pada Kategori "Open" adalah mereka yang bekerja pada institusi swasta (termasuk institusi pendidikan swasta) yang dapat melamar secara bebas untuk beasiswa dari kategori ini. Terdapat beberapa kriteria seleksi dan persyaratan yang mungkin diberlakukan. Pelamar pada sektor ini tidak memerlukan persetujan dari pemerintah terlebih dahulu.

Pegawai negeri sipil tidak dapat melamar di kategori "Open". Beasiswa disediakan untuk program studi Master dan Doktor secara penuh waktu di berbagai institusi perguruan tinggi di Australia. Program beasiswa ini menyediakan program persiapan bahasa dan akademik yang dapat mencapai waktu sembilan bulan. Mahasiswa terpilih wajib memperoleh nilai yang memuaskan di dalam pelatihan ini untuk dapat melanjutkan beasiswa mereka. Lamaran dari pelamar perempuan dan kandidat yang berasal dari propinsi-propinsi yang menjadi fokus perencanaan strategis AusAID sangat didukung. 

Pelamar pada Kategori "Targeted" adalah mereka yang bekerja pada lembaga yang terkait dengan program-program AusAID atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan AusAID, termasuk organisasi pemerintah, BUMN, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Masyarakat (Ormas) dan institusi perguruan tinggi milik pemerintah maupun swasta yang berperan penting dalam menyediakan kebutuhan pelatihan bagi lembaga-lembaga tersebut. Pelamar yang memenuhi syarat akan dinominasikan dengan bantuan Konsultan Sumber Daya Manusia (SDM) dari kantor ADS yang bekerjasama dengan lembaga-lembaga target tersebut. Nominasi pelamar wajib difasilitasi oleh Australian Team Leader (ATL) atau perwakilan lain yang ditunjuk di dalam sebuah kegiatan AusAID. Hingga 50% dari jumlah beasiswa akan disediakan bagi kategori ini.

Persyaratan

Secara Umum, Kandidat Wajib:
*  Merupakan warga negara Indonesia dan tidak memiliki ijin tinggal tetap di Australia ataupun   New Zealand;
* Tidak beristrikan/ bersuamikan atau bertunangan dengan seseorang yang memenuhi syarat untuk memegang kewarganegaraan atau ijin tinggal tetap di Australia ataupun New Zealand;
* Memenuhi persyaratan Pemerintah Australia dalam penerimaan mahasiswa asing di Australia (kesehatan, karakter, dll);
* Tidak memperoleh Beasiswa Pemerintah Australia dalam 12 bulan terakhir sebelum aplikasi;
* Melamar untuk studi yang baru akan dijalani dan bukan mencari bantuan melalui ADS terhadap studi yang telah berlangsung di Australia;·         

* Sanggup untuk menjalani program beasiswa di tahun yang sama dengan waktu beasiswa ditawarkan; dan
* Memenuhi persyaratan penerimaan pada institusi perguruan tinggi Australia dimana kandidat melamar. 

Secara Khusus, Kandidat wajib:
* Melamar untuk program studi yang termasuk di dalam salah satu dari keempat bidang prioritas pembangunan;
* Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2.9 (pada skala 4) dan kemampuan berbahasa Inggris yang dibuktikan dengan nilai IELTS minimal 5.0 (atau nilai TOEFL Institusional minimal 500 atau 170 hasil TOEFL Internasional). Hasil tes IELTS atau TOEFL tersebut harus masih berlaku (hasil yang diperoleh pada tahun 2009 atau 2010 akan dianggap masih berlaku);
* Telah memiliki gelar sarjana Strata 1, apabila melamar untku program Master;
* Telah memiliki gelar sarjana Strata 2, apabila melamar untuk program Doktor;
* Melamar untuk program studi dengan jenjang yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan tertinggi pelamar saat mengajukan aplikasi;
* Apabila melamar untuk program Doktor, pelamar harus merupakan staf pengajar universitas, institusi peguruan tinggi, lembaga penelitian, pengambil kebijakan utama dan kandidat target pada lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan AusAID. Sangat diharapkan bagi pelamar program Doktor untuk memiliki surat dukungan yang dikeluarkan oleh universitas di Australia untuk program studi yang dituju;·         

* Menjawab semua pertanyaan yang terdapat pada formulir aplikasi beasiswa;
Bersedia dan sanggup untuk mengikuti pelatihan Bahasa Inggris untuk Keperluan Akademik (EAP) secara penuh waktu (Senin – Jumat, 08.00 - 16.00) di Indonesia sebelum mengikuti program sudi di Australia, apabila berhasil mendapatkan beasiswa;
* Tidak berusia lebih dari 42 tahun pada saat melamar.

Jumlah Beasiswa dan Jangka Waktu

Jumlah ADS yang diberikan setiap tahunnya akan bergantung pada alokasi anggaran Pemerintah Australia. Pada siklus ADS tahun 2010/2011, 350 ADS tersedia untuk awal 2011/2012. Beasiswa dialokasikan sebagai berikut:

  • Sampai dengan 50% beasiswa untuk program Master akan diberikan kepada Kategori Target;
  • 2/3 dari seluruh beasiswa akan diberikan kepada kategori Sektor Publik;
  • 1/3 dari seluruh beasiswa akan diberikan kepada kategori Sektor Terbuka;
  • Beasiswa akan diberika secara merata kepada pelamar perempuan dan laki-laki;
  • Setidak-tidaknya 30 persen dari keseluruhan beasiswa akan diberikan sejalan dengan fokus geografis Perencanaan Strategis bagi Indonesia. Fokus geografis termasuk Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, Papua Barat, dan Aceh;
  • 90 persen dari beasiswa untuk program Master dan 10 persen untuk program Doktor (catatan, studi untuk tingkat Doktor hanya terbuka bagi staf universitas, institusi perguruan tinggi, lembaga penelitian, pengambil kebijakan utama dan kandidat target di organisasi-organisasi yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan AusAID).

Lama Studi dan Pilihan Program Studi

Beasiswa akan disediakan untuk studi penuh waktu pada kualifisasi paska sarjana di universitas Australia, yang terseleksi dari antara universitas yang bekerjasama dengan AusAID (biasanya lama studi untuk program Master adalah 2 tahun dan 4 tahun untuk program Doktor). Mahasiswa yang menjalani program penelitian dapat memperoleh dana untuk melaksanakan kerja lapangan di Indonesia. Proposal untuk kerja lapangan harus diikutsertakan di dalam dokumen penawaran penempatan di universitas yang asli.

 

Bidang Prioritas Pembangunan

Kandidat harus memilih bidang studi yang jatuh pada area prioritas akademik Kemitraan Australia Indonesia. Daftar yang menunjukan area studi adalah sebagai berikut. Daftar ini bergantung pada peninjauan kembali secara terus menerus melalui proses Program Coordination Committee setiap enam bulan sekali.

Australia Indonesia PartnershipPriority Development Areas (PDA)    
Sustainable Growth and Economic Management   
Democracy Justice and Good Governance   
Investing in People   
Safety and Peace
Description of PDA   
Improving economic policy and management, reducing constraints to growth in infrastructure and productivity, and improving natural resource management, environmental governance and response to climate change.   
Strengthening the capacity, accountability and responsiveness of legal, democratic and oversight institutions, and improving local government and public financial management.    
Better quality, access and governance in education, and better health access and systems   
Improving responses to humanitarian needs, emergencies and vulnerability to disasters, and improving capacity to ensure transport security and to counter threats from transnational crime.

Australia Indonesia Partnership Priority Fields of Study    Natural Resource Management
Agriculture
Aquaculture/fisheries
Forestry
Climate Change
Economics
Infrastructure Planning
Water and Sanitation
Rural Growth
Small and medium enterprise development    Law, legal and judicial systems
Political Science and Government
Public administration
Public expenditure management
Public Sector Reform
Environmental Law
Anti-corruption
Decentralisation    Communicable Disease Prevention
Health Management
Health Services
Maternal and Child Health
Women and Gender Studies
Disabilitiy Services
Public Health
Education and Training
Education Management
Human Resource Development    Conflict Resolution
Disaster Prevention and Management
Transport Safety
Transnation Crime Prevention
Development Studies
International Studies

NB: Jika area studi anda tidak terdaftar disini, anda masih dapat memilih bidang studi yang berkaitan dengan deskripsi PDA. Untuk informasi lebih lanjut mengenai PDA, silahkan kunjungi website AusAID di http://www.indo.ausaid.gov.au/docs/aipstrategyinfo.html

Kandidat yang mempertimbangkan untuk memilih studi untuk profesi tertentu harus mengingat bahwa ADS tidak mengikutsertakan periode pelatihan teknis yang diperlukan untuk registrasi profesi, seperti pelatihan profesi dokter, pengacara, dll. Kandidat yang berhasil memperoleh beasiswa diharapkan untuk menyelesaikan pendidikan profesi mereka di Indonesia.

 

Proses Seleksi

Semua pelamar akan dinilai oleh Panitia Seleksi Bersama atau Joint Selection Committee yang bersifat independen dan terdiri dari akademisi Australia dan Indonesia. Hanya mereka yang terseleksi yang akan diwawancarai. Wawancara akan menilai kemampuan akademis pelamar; kejelasan tujuan studi, kemampuan penyesuaian budaya. Hal penting yang akan dinilai secara kritis adalah seberapa baik pelamar ADS dapat menjelaskan keterkaitan bidang studi yang diajukan dengan pembangunan Indonesia. Wawancara akan disertai tes IELTS yang bertujuan untuk menilai kemampuan berbahasa Inggris. Seleksi akhir bersifat objektif dan didasari oleh prinsip hak perolehan dan persamaan.

Pemberitahuan Hasil Seleksi

Semua pelamar akan diberitahu mengenai status apakah mereka terpilih untuk proses wawancara atau tidak. Semua pelamar yang telah diwawancarai akan diberitahu mengenai status apakah mereka berhasil memdapatkan ADS atau tidak. Lembaga-lembaga pada Sektor Publik tempat pelamar bekerja akan ikut serta diberitahu. Hasil seleksi bersifat final dan tidak terbuka kesempatan korespondensi mengenai hal ini. Pemberitahuan akan mengikutsertakan informasi mengenai pelatihan pra keberangkatan (bahasa Inggris, keterampilan akademis, persiapan budaya). Pelatihan ini bersifat wajib dan penuh waktu.

Catatan:

Hasil pra seleksi akan disampaikan pada akhir November 2010.
Hasil proses seleksi (wawancara) akan disampaikan pada January 2011.
Mohon hubungi kantor ADS apabila anda belum menerima hasil seleksi anda hingga waktu tersebut.

Kondisi Beasiswa

Apabila anda terpilih untuk menerima beasiswa anda akan diminta untuk menyetujui beberapa persyaratan sebelum memperoleh beasiswa tersebut.

Berikut ini adalah persyaratan utama untuk pengetahuan anda.

Apabila anda menerima Beasiswa Pembangunan Australia (ADS), anda akan diminta untuk:

  • Sepakat bahwa beasiswa yang diberikan adalah untuk bidang studi dan tingkat pendidikan yang sesuai;
  • Menyadari bahwa permintaan studi tambahan tidak akan dipertimbangkan di dalam beasiswa ini;
  • Sepakat untuk tidak mengubah pendaftaran anda di universitas tanpa persetujuan dari AusAID terlebih dahulu;
  • Sepakat untuk menjalani studi penuh waktu dan menyelesaikan semua permintaan program studi seperti yang disyaratkan oleh institusi pendidikan anda;
  • Sepakat untuk tidak bekerja di luar masa liburan tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari AusAID dan tidak melebihi batasan yang berlaku pada visa anda;
  • Menyadari bahwa beasiswa anda dapat ditarik oleh Pemerintah Australia;
  • Sepakat untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi;
  • Sepakat untuk segera menginformasikan AusAID apabila anda memutuskan untuk menikah dengan warga negara Australia atau New Zealand atau mengajukan permohonan pergantian status visa;
  • Menyadari bahwa aplikasi untuk ijin tinggal tetap di Australia akan membuat anda berhutang kepada Persemakmuran Australia sejumlah nilai total beasiswa anda;
  • Sepakat untuk menjamin bahwa institusi pendidikan anda memiliki berkas terkini alamat lengkap anda;·          Sepakat untuk memberikan informasi mengenai perkembangan studi anda; dan
  • Sepakat untuk berperilaku dengan cara yang tidak akan mempermalukan diri anda, AusAID, institusi anda, ataupun negara anda selama periode beasiswa.

Mohon diperhatikan:
AusAID mengharapkan setiap penerima beasiswa untuk kembali menetap di negara asalnya dan mempergunakan keterampilan yang telah diperolehnya sebelum menjalani masa studi jangka panjang berikutnya.

 

Bergantung pada pemenuhan persyaratan-persyaratan tersebut di atas, Lembaga Australia untuk Pembangunan Internasional atau AusAID akan menyediakan hal-hal berikut ini, (baik secara langsung maupun melalui institusi pendidikan):

  • Pebayaran biaya pendidikan anda secara langsung kepada intitusi pendidikan anda;
  • Pembayaran satu buah tiket pesawat ekonomi pulang- pergi dari bandar udara utama di Indonesia (Jakarta atau Denpasar) ke bandar udara terdekat dengan universitas anda di Australia. Hak untuk memperoleh tiket kunjungan keluarga (reunion arifare) akan tersedia bagi mahasiswa setelah penyelesaian tahun pertama studi; perolehan tiket kunjungan keluarga selanjutnya akan tersedia setiap tahunnya selama program ADS, kecuali pada tahun terakhir ADS. Pada kasus mahasiswa yang masih sendiri, definisi keluarga mencakup orangtua dan saudara kandung. ·          Pembayaran sebuah tunjangan kedatangan satu kali pada saat awal beasiswa di Australia;
  • Sebuah tunjangan untuk biaya hidup setiap dua minggunya yang ditujukan sebagai kontribusi kepada biaya hidup anda di Australia, selama periode beasiswa anda;
  • Selama memungkinkan and telah disepakati terlebih dahulu, sebuah tiket pesawat ekonomi pulang-pergi untuk keperluan kerja lapangan untuk topik penelitian anda (tunjangan hidup akan tetap berlaku selama periode kerja lapangan yang telah disetujui);
  • Tutorial dan atau editorial tambahan apabila disepakati bahwa hal ini diperlukan untuk mencapai kemajuan akademik yang diperlukan bagi anda;
  • Asuransi kesehatan – bagi mahasiswa; penerima beasiswa diminta untuk mengurus OSHC untuk setiap anggota keluarga yang menemani demi memenuhi persyaratan pembuatan visa; dan
  • Penyediaan Visa Mahasiswa AusAID.

Institusi pendidikan anda akan menyediakan:

  • Instruksi dan fasilitas yang diperlukan untuk menyelesaikan program studi yang telah ditentukan;
  • Dukungan akademis dan kesejahteraan yang sesuai selama masa studi anda;
  • Penjemputan di bandar udara dan pengurusan tempat tinggal sementara setibanya anda di Australia.

AusAID dan Kantor Program ADS

Beasiswa anda disediakan oleh Pemerintah Australia sebagai bagian dari program Australia mengenai kerjasama pembangunan dengan Indonesia. Lembaga Australia untuk Pembangunan Internasional atau AusAID adalah lembaga yang bertanggungjawab untuk program Bantuan Luar Negeri dari Pemerintah Australia. Beasiswa Pembangunan Australia (ADS) adalah bagian dari komitmen AusAID kepada pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.

Kantor Program ADSAusAID mengontrak IDP Education Pty Ltd untuk menyampaikan dan mengurus beasiswa anda. IDP telah mendirikan Kantor Program ADS untuk menjalankan tugas ini.

Apabila anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut mengenai beasiswa anda, anda dapat menghubungi kantor program ADS di nomor telepon: (021)527 7648, fax: (021)527 7649 atau e-mail: info@adsindonesia.or.id.