Thursday, August 12, 2010

A.S. Laksana, Jawa Pos [ Minggu, 13 Desember 2009 ]


Dicari, Pendekar Bodoh!

Di buku-buku silat yang pernah saya baca, para pengarang biasanya punya kecenderungan akut untuk mengagungkan kebodohan.

---

''SAUDARA-saudara sekalian, mari kita bersihkan saja negeri ini dari para politikus. Sampean tahu sendiri kan, mereka itu pekerjaannya cuma bikin gangguan,'' kata Commodus, raja lalim dalam film Gladiator arahan sutradara Ridley Scott.

Ketika itu, tahun 180 Masehi, ia baru merampas kekuasaan Romawi dari tangan ayahnya, Caesar Marcus Aurelius, sang filsuf. Tetapi, Commodus jatuh tak lama setelah itu, tidak oleh celoteh para politikus. Ia tertikam mati oleh Maximus Decimus Meridius, jenderal yang dibencinya, dalam pertarungan otot di Coliseum Roma.

Mengenai politikus, yang celotehnya membuat Commodus muak, saya kira nasib profesi itu agak mirip-mirip dengan dunia pelacuran: ia tetap diminati orang meskipun selamanya dianggap sebagai dunia yang kotor. Pandangan tentang politik sebagai dunia yang kotor, tampaknya, abadi sampai hari ini. Para politikus, di banyak tempat, hampir selalu dianggap sebagai gangguan -oleh penguasa, juga oleh publik yang diwakilinya. Katharine Whitehorn, jurnalis Inggris, menyatakan pendapat buruknya tentang politikus sebagai berikut, ''Kata suami saya, kebanyakan politikus bukanlah bajingan sejak lahir, mereka seperti itu karena tuntutan pekerjaan.''

Pendapat itu terasa sebagai pandangan yang traumatik, dan saya tidak berharap bahwa pandangan itu benar. Bagi saya, politik adalah sesuatu yang kadang terasa bising sekali. Saya pernah mengira sebelum ini bahwa puncak kebisingan adalah saat-saat menjelang pemilu, yakni ketika para politikus ramai mengumbar janji. Karena itu, saya merasa lega ketika pemilu berakhir. Saya pikir dunia dan seisinya akan kembali tenang dengan selesainya pemilu. Namun, saya keliru besar di situ. Dunia politik rupa-rupanya tidak pernah berhenti bising. Selalu ada yang bisa diributkan. Tepatnya, selalu ada bahan untuk dipolitisasi. Mungkin memang di situlah poin utamanya: Kalau tidak bisa memolitisasi apa pun, lalu apa gunanya orang menjadi politikus?

Secara bersungguh-sungguh, saya pernah membuat pengandaian, tentu saja cuma di depan teman saya sendiri; sekiranya Tuhan berminat menurunkan lagi seorang nabi, saya yakin nabi baru itu akan diturunkan di Indonesia. Pengandaian itu tak berhubungan dengan munculnya orang-orang yang menyatakan diri sebagai nabi atau juru selamat. Anda bisa menganggap mereka itu lucu-lucuan saja, dan saya kira mereka akan kesulitan jika diminta menunjukkan surat pengangkatan dari Tuhan. Jadi, santai sajalah, tak ada yang serius dengan deklarasi mereka.

Namun, tetap ada pelajaran menarik dari munculnya ''nabi'' yang lucu-lucu itu. Setidaknya, kita bisa mempertimbangkan bahwa kondisi kita hari ini mungkin memang ''memenuhi syarat'' untuk diturunkannya seorang nabi. Banjir besar, ada. Tsunami, ada. Gempa, ada. Kebobrokan masal, ada. Untuk menyederhanakan urusan dan biar terasa lebih bombastis, saya bisa mengatakan ada keruwetan di setiap inci tanah yang kita pijak. Juga, ada ketidakpastian untuk menjalani hidup, di hari ini maupun di masa depan. Lebih dari itu, ada kegagalan kita untuk berpikir simpel.

''Jika 10 persen orang terkaya di Indonesia rela memberikan 20 persen penghasilan mereka (bukan harta atau aset), tidak ada lagi orang miskin di Indonesia,'' kata H.S. Dillon tiga tahun lalu. Semudah itukah mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia? Mungkin. Tetapi, cara yang semudah itu pun tak pernah bisa kita lakukan. Kita gagal di banyak tempat dan dalam banyak urusan.

Di Sidoarjo kita gagal menemukan cara paling adil untuk menangani korban semburan lumpur. Sekarang sedang diusut masalah pelanggaran HAM yang terjadi di sana. Di Purwokerto seorang mandor kebun gagal memaafkan Nek Minah yang, karena kemiskinannya, tergiur memetik tiga butir kakao untuk ia jadikan bibit. Vonis 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan 3 bulan memang tidak mengharuskannya mendekam di sel penjara, tetapi proses hukum telah menjadikannya sasaran pemerasan. Ia bilang telah didatangi orang yang mengaku polisi, dan orang itu meminta biaya sidang kepadanya. ''Saya sampai harus utang Rp 50 ribu kepada tetangga,'' katanya.

Dengan sogokan atau pemerasan mulai kelas Rp 50 ribu sampai Rp 6 miliar model jaksa Urip Tri Gunawan beberapa waktu lalu, saya kira Pak Presiden harus serius memikirkan bagaimana cara menjadikan aparat penegak hukumnya berkualitas. Anda tahu, Nek Minah mengalami itu setelah pidato presiden tentang program 100 hari yang menempatkan pemberantasan mafia hukum di posisi teratas.

Di mana lagi kita gagal? Banyak. Kita tidak bisa membangun jalan aspal yang kukuh di sepanjang pantai utara Jawa dan di mana-mana. Dunia pendidikan kita, selain ribut soal ujian nasional perlu diadakan atau tidak, juga tidak tahu bagaimana cara membangun gedung sekolah yang tidak mudah roboh. Hal lainnya, kita hidup di negeri dua musim, dan di dua musim itu kita sengsara. Saat musim hujan, banjir. Kala musim kemarau, kekeringan. Kita, tampaknya, semakin tidak tahu bagaimana mengatasi banjir dan kekeringan itu.

Melanjutkan pengandaian tentang nabi, saya kira negeri ini idealnya memang dipimpin oleh seorang kepala negara yang sekaligus nabi. Ia bisa figur seperti Sulaiman, hakim yang adil dan penguasa atas manusia, jin, dan hewan-hewan. Bisa seperti Daud, si kecil yang mampu mengalahkan raksasa Jalud. Bisa seperti Musa yang di waktu kecil sudah menarik janggut Firaun. Bisa seperti Isa sang juru selamat. Bisa seperti Muhammad, pemikul amanah yang bisa dipercaya.

Tetapi, karena tidak ada lagi nabi yang diturunkan, saya punya saran lain yang sangat religius, yakni kita bisa mengandalkan Tuhan untuk menyelesaikan segala keruwetan. Bagaimana cara terbaik menangani Anggodo, kita serahkan kepada Tuhan. Bagaimana kasus Bank Century harus diselesaikan, kita serahkan kepada Tuhan. Bahkan, untuk memastikan apakah benar Pak Presiden difitnah, seperti yang sering ia sampaikan, kita serahkan saja benar atau tidaknya kepada Tuhan.

Setelah itu, kita bisa mendengkur, sehari saja di dalam kamar atau ratusan tahun di ceruk gua seperti para pemuda Ashabul Kahfi. Ketika kita bangun, semuanya sudah beres. Teman saya mencibir: Ngawur!

Kepadanya saya bilang, jangan omong sembarangan; kepasrahan kepada Tuhan bukanlah tindakan ngawur. Demi keamanan dia, saya tidak akan membocorkan siapa nama teman saya itu. Saya takut ia digeruduk kaum fanatik.

Kalau pengandaian yang religius tidak memungkinkan, saya kira pengandaian sekuler dari dunia persilatan bisa lebih masuk akal. Maksud saya begini, sekiranya kita hidup di dunia persilatan, segala pertanyaan akan mudah dijawab. Misalnya, siapa yang akan memenangi pertarungan dalam kasus Bank Century? Jawab: orang yang paling bodoh.

Selalu begitu dalam dunia persilatan. Di buku-buku silat yang pernah saya baca, para pengarang biasanya punya kecenderungan akut untuk mengagungkan kebodohan. Banyak pendekar besar, pemilik ilmu kanuragan yang tak tertandingi, semula adalah para pemuda bodoh yang lambat sekali mencerna pelajaran apa pun dari guru mereka. Di dunia persilatan, Anda tahu, kecerdasan berjalan sejajar dengan kelicikan dan kebodohan selalu identik dengan kebaikan. Dasarnya sepele saja, orang bodoh selalu dianggap lebih jujur daripada orang cerdas.

Tetapi, sebuah negara demokrasi bukanlah dunia persilatan semacam itu. Lalu, apa perbedaan antara demokrasi dan dunia persilatan? Tidak ada, jawab filsuf dan matematikawan Inggris Bertrand Russell (1872-1970). ''Demokrasi yang kita agungkan cenderung menganggap orang bodoh sebagai orang yang lebih jujur ketimbang orang cerdas, dan para politikus kita mengambil keuntungan dari anggapan itu dengan tampil lebih bodoh dari yang disangka orang,'' katanya.

Jika Russel benar, dunia politik pun menjadi mudah diduga. Artinya, dalam setiap pertarungan politik, politikus paling bodohlah yang akan menang. Sebab, ia tampak lebih jujur. (*)

*) A.S. LAKSANA , cerpenis, tinggal di aslaksana@yahoo.com

A.S. Laksana, Jawa Pos [ Minggu, 31 Januari 2010 ]


Dari Temu Penulis Opini Jawa Pos

Penulis Tidak Lahir Seketika

SURABAYA - Aula Semanggi Lantai 5 Graha Pena cukup riuh kemarin (30/1). Seluruh penulis dan calon penulis opini Jawa Pos tumplek-blek. Disemangati KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan A.S. Laksana, mereka digiring untuk menjadi penulis opini andal. Diskusi pun berlangsung gayeng.

Selain dua pembicara tamu tersebut, diskusi menampilkan tiga redaktur opini Jawa Pos. Mereka adalah Akhmad Zaini (opini nasional), Sudjatmiko (opini Metropolis), dan Arief Santosa (rubrik budaya-buku).

Dua penulis kawakan tersebut bergantian memberikan materi. Gus Sholah terlihat telaten menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilemparkan peserta.

Dia mengungkapkan, untuk menjadi seorang penulis, diperlukan ketelatenan dan keuletan yang luar bisa. Orang yang saat ini dikenal sebagai penulis awalnya juga menghadapi rintangan yang tidak ringan. ''Hampir semua mengalami seperti itu.''

Keuletan, lanjut adik kandung Gus Dur itu, sangat diperlukan seorang penulis. Sebab, orang tersebut tidak akan mudah putus asa ketika tulisannya tidak dimuat. ''Jangan dikira semua tulisan yang saya kirim ke media dimuat. Banyak tulisan saya yang tidak dimuat. Apalagi ketika awal-awal dulu,'' ungkapnya.

Hampir sama dengan Gus Sholah, A.S. Laksana menyatakan, penulis sejati itu harus ulet. Harus berujar kepada diri sendiri untuk membuat karya yang lebih bagus dari hari ke hari.

Lantas, dia membuka lembar sejarah proses menulisnya. Laksana mengaku mulai menulis sejak duduk di bangku kelas IV SD. Namun, karyanya baru dimuat saat dirinya duduk di bangku kelas II SMA. ''Bayangkan, enam tahun baru dimuat,'' ujarnya.

Kreativitas, kata Laksana, akan terbentuk seiring dengan kualitas karya yang ditelurkan seorang penulis. ''Sulit kalau sekali menulis langsung bagus,'' tegas mantan wartawan Jawa Pos dan tabloid DeTik tersebut.

Sementara itu, Akhmad Zaini, redaktur opini Jawa Pos, menjelaskan, kriteria nomor wahid kelayakan opini di Jawa Pos adalah kualitas serta kompetensi penulis. Jadi, gelar profesor atau doktor tidak memengaruhi pertimbangan pemuatan.

Dia lalu menceritakan, ketika kasus Prita Mulyasari mencuat, Jawa Pos memuat tulisan seorang ibu rumah tangga dari Jakarta. Saat itu, yang dijadikan pertimbangan, selain cara menulisnya bagus, orang tersebut dianggap berkompeten untuk mengungkapkan persoalan seorang ibu yang harus berpisah dari anak-anaknya gara-gara disel. ''Namun, ya itu, ada juga yang protes. Tapi, enggak apa-apa. Kita anggap angin lalu saja,'' ujarnya.

Dia menambahkan, tulisan yang masuk ke e-mail opini setiap hari mencapai 50-75 tulisan. Karena itu, seleksinya sangat ketat.

Sebagai solusi, redaktur halaman Metropolis Sudjatmiko mengimbau supaya penulis juga memanfaatkan halaman opini di Metropolis. ''Hanya, temanya harus menyangkut persoalan Surabaya dan Jatim. Peluangnya lebih besar karena penulis yang mengirim tidak terlalu banyak,'' ungkapnya. (wan/zen)

A.S. Laksana, Jawa Pos [ Minggu, 27 Desember 2009 ]

Dari Sebuah Talk Show Tengah Malam

TENGAH malam, saat menunggu siaran langsung sepak bola, saya menjumpai acara talk show di televisi. Ini bukan siaran langsung karena ada tulisan recorded di sudut layar. Pembawa acara memperkenalkan pengamat politik yang ada di studio dan mereka mempersembahkan pertunjukan omong-omongan itu. Inilah intisarinya:

Orang-orang saat ini sedang mempertanyakan benarkah semua warga punya hak yang sama untuk mendapatkan keadilan di muka hukum. Menurut Anda?

Menurut saya, tidak. Apalagi di mata hukum, di mata pegawai bank pun tidak. Jika Anda punya rencana besar, yang membutuhkan modal dari bank Rp 25 juta saja, dan penampilan Anda tampak mengkhawatirkan, maka bank besar pasti menolak Anda, apalagi bank kecil.

Penampilan mengkhawatirkan? Maksud Anda?

Misalnya, Anda tampak kurus dan sakit-sakitan. Orang-orang melarat sering tampak kurus dan sakit-sakitan seperti itu. Kalau Anda berupaya meyakinkan bahwa Anda serius dengan proyek Anda dan Anda sampai menangis meraung-raung agar proposal Anda disetujui, saya yakin Anda justru akan tampak semakin mengkhawatirkan di mata Pak Boediono, misalnya. Maka, sudah sepantasnya Anda ditangani oleh satpam. Dan, dengan demikian, Anda tidak akan pernah paham kenapa orang-orang itu, yang kemudian melarikan dana triliunan dari Bank Indonesia, bahkan ratusan triliun kalau disatukan, bisa dengan mudah mendapatkan kepercayaan.

Ini agak beda jika Anda warga Bangladesh. Di sana ada Muhammad Yunus yang tahu cara memberikan pinjaman usaha untuk orang-orang miskin. Dan dia membuktikan bahwa orang-orang miskin bisa dipercaya ketika mendapatkan pinjaman dari bank. Mereka menjalankan usaha secara benar dan bisa mengembalikan pinjaman tersebut.

Oke, para pemirsa di rumah, saya minta Anda jangan ke mana-mana dulu. Kita akan kembali setelah pariwara berikut.

(Saya tidak ke mana-mana. Anda tahu, pembawa acara di televisi gemar sekali menyampaikan hal-hal yang sudah jelas. Tentu saja ''kita'' harus kembali, sebab acaranya belum selesai, kan? Kalau pembawa acara itu ngeloyor dan tidak kembali lagi ke studio sebelum acara selesai, dia tentu akan dipecat seketika oleh bosnya.)

Kita masuk ke isu yang sedang panas sekarang. Menurut Anda, apakah Pansus Angket Century akan berhasil?

Tunggu dulu! Saya kira kita harus jelas dulu apa yang disebut berhasil. Apakah Pansus Angket itu akan dianggap berhasil jika:

Boediono dan Sri Mulyani berhasil diturunkan dari posisi mereka, atau

Boediono dan Sri Mulyani tetap bisa memegang jabatan mereka, atau

Nasabah Bank Century bisa mendapatkan kembali uang mereka (tetapi beberapa orang kabarnya sampai bunuh diri), atau

Pansus berhasil memaksa PPATK, dengan kekuatan legal, untuk mengeluarkan laporan ke mana saja dana mengalir dari BI ke Century dan ke siapa saja, atau

Menjadikan pemerintahan SBY-Boediono lebih kuat, atau

Menjadikan pemerintahan SBY-Boediono lebih lemah, atau

Mengungkap bahwa para politikus lebih bodoh daripada kelihatannya, atau

Mengungkap bahwa para politikus lebih cerdas daripada kelihatannya, atau

Membuktikan bahwa curhat SBY tentang fitnah itu keliru atau tidak, atau

Membuat Miranda Goeltom menjadi lebih tahu, sebab sejauh ini dia selalu menjawab tidak tahu, atau

Kalaupun gagal dalam banyak hal, setidaknya pansus bisa menjadikan Skandal Century ini tontonan yang lebih menarik.

Jadi, di antara sekian itu, dan Anda bisa menambahkan sendiri kalau mau, mana yang paling memadai untuk dijadikan ukuran keberhasilan? Saya tidak yakin Pansus Angket Century akan berhasil jika dia sendiri tidak tahu ukuran keberhasilannya. Anda tahu, tanpa ukuran yang jelas, tanpa kriteria tertentu tentang keberhasilan, pansus hanya akan menjadi bandul jam yang berayun cepat ke kiri dan ke kanan.

Anda tampaknya meragukan kinerja Pansus Angket Century?

Tepatnya, saya tidak tahu apa yang dimaui Pansus Century. Saya tidak tahu apakah Pansus Angket Century itu benar-benar memahami apa itu hak angket, apa kekuatannya, dan sampai sejauh mana kewenangannya. Benny K. Harman, ketua Komisi III (Hukum) DPR, menyatakan bahwa Pansus Angket itu semacam rapat konsultasi belaka. Pekan lalu saya membaca artikel bagus di Detikcom tentang bagaimana hak angket digunakan oleh parlemen di Belanda. Ini hak parlemen yang kekuatannya dahsyat, tetapi mungkin parlemen kita sudah sanggup menjinakkannya menjadi semacam rapat konsultasi biasa. Kalau Harman benar, apa beda hak angket tersebut dengan rapat konsultasi biasa? Merujuk artikel itu, saya akan mengatakan bahwa si Harman tersebut tak tahu apa-apa tentang hak angket. Entah apakah para anggota DPR yang lain juga tidak tahu apa-apa.

Anda sering tampak sinis kepada para politikus, atau Anda penganut pandangan bahwa politik itu sesuatu yang kotor?

Sebetulnya, orang-orang zaman dulu pun begitu. Orang kiri, sinis. Orang kanan, sinis. Jadi, apa pun alirannya, sinis saja bawaannya kepada politikus. Saya akan membacakan catatan yang saya bawa tentang omongan orang tentang politisi.

Coba dengar omongan anonim orang Amerika ini: ''Jangan bilang-bilang ke ibu saya, ya, bahwa saya masuk ke dunia politik. Selama ini dia mengira saya bermain piano di rumah bordil."

Nah, Nikita Khruschev tak mau kalah. Menurut si Soviet itu, ''Politikus ya memang gitu-gitu saja di mana pun. Mereka selalu berjanji membangun jembatan meskipun tak ada sungai di situ.''

''Dan, ada satu rahasia," kata orang Prancis Charles de Gaulle. ''Sebetulnya tak ada satu politikus pun yang memercayai omongannya sendiri. Mereka justru akan terpana ketika ada orang memercayai omongan mereka."

''Tapi, sialnya, mereka itu yang menentukan nasib orang banyak," kata Albert Camus. ''Menurut saya, politik dan takdir itu sama belaka, sama-sama ditentukan oleh orang-orang yang tak punya gagasan maupun harga diri. Orang-orang yang punya harga diri tak akan masuk politik."

Tunggu sebentar, Anda tak punya kutipan dari dalam negeri?

Ada, Ruhut Sitompul. Artis sinetron yang sekarang jadi politikus itu bilang bahwa mitra koalisi yang mendukung penonaktifan Boediono dan Sri Mulyani adalah pengkhianat. Dan siapakah yang dia maksud mitra koalisi? Tentu saja politikus. Tidak ada tukang ledeng yang jadi mitra koalisi, kan?

Dan tentang Ruhut ini, saya pikir dia akan menjadi politisi yang baik jika dulu dia bisa bermain sinetron secara baik, setidaknya satu episode saja.

O, Anda juga pengamat sinetron rupanya?

Saya penggemar film hantu-hantuan. Menurut saya, film-film hantu itu berhasil menjadi lucu secara alamiah. Dan saya kira di situ mereka berhasil sebagai film humor, yakni menjadi lucu tanpa berniat melucu. Lalu, salah satu inovasi yang dihadirkan oleh film hantu-hantuan itu adalah tampilnya setan budheg. Bayangkan betapa sulitnya mengusir setan macam beginian. Ia tak akan bisa mendengar kalaupun Pak Kiai membaca ayat-ayat suci sampai khatam.

Tetapi, di luar faktor kelucuannya, ada hal lain yang paling saya hargai dari hantu-hantu itu, yakni bahasa mereka lebih tertib jika dibandingkan dengan para politikus. Coba Anda ingat-ingat, hanya hantu-hantu dalam film Indonesia yang berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Mendiang Suzana, misalnya, jadi sundel bolong, Nyi Blorong, ataupun Nyi Roro Kidul, dia selalu berbahasa dengan tertib, sesuai EYD, dan sedikit bergema. Demikian pula kebanyakan hantu yang muncul setelahnya.

Jadi, saya punya usul, sebaiknya Pusat Bahasa mendorong agar sineas-sineas kita lebih giat lagi membikin film hantu-hantuan. Itu demi memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia secara baik dan benar. Manfaat lainnya, itu bisa mengimbangi kekacauan bahasa para politikus.

Terakhir, masih menyangkut urusan bahasa, kenapa Menteri Tifatul Sembiring suka berpantun?

Agar terasa kuno. Apa lagi? Saya kira itulah motif dia berpantun. (*)

 

 

*) A.S. Laksana , cerpenis, tinggal di aslaksana@yahoo.com

Abdul Majid Hariadi, Jawa Pos [ Selasa, 16 Maret 2010 ]

Guru Jangan Mencederai Unas

Oleh : Abdul Majid Hariadi

HASIL jeblok tryout ujian nasional (unas) di berbagai daerah di Jawa Timur menjadi sinyal buruk bagi pelaksanaan unas tahun ini. Hal ini terjadi pada hampir semua siswa tingkat SMP/MTS maupun SMA/MA/SMK, baik negeri maupun swasta. Nilai yang dicapai di atas 50 persen di bawah standar alias tidak lulus.

Di Kota Surabaya yang menjadi barometer pendidikan di Jatim hasil tryout unas sangat mengecewakan. Untuk tingkat SMA/MA, hampir 75 persen siswa tidak lulus. Bahkan, ada puluhan sekolah swasta yang 100 persen siswanya tidak lulus.

Demikian halnya yang terjadi pada tingkat SMP/MTS. Sekitar 75 persen pelajar SMP di Kota Pahlawan tidak lulus tryout unas. Sebanyak 110 sekolah swasta menunjukkan kelulusan nol persen. Hasil tryout siswa MTS malah lebih memprihatinkan. Hampir 95,57 persen siswa tidak lulus.

Jebloknya hasil tryout unas tersebut selalu ditanggapi dengan jawaban seragam oleh kepala dinas pendidikan, kepala sekolah maupun guru. Ketika dikonfirmasi, mereka selalu menjawab bahwa hasil uji coba atau tryout tidak bisa dijadikan acuan atau karena soal tryout dibuat lebih sulit daripada soal unas.

Mengapa kita tidak berusaha berpikir sebaliknya? Memberikan soal tryout lebih sulit daripada unas dan membuat siswa mampu mengerjakan soal tersebut. Logikanya, kalau mampu mengerjakan soal tryout yang lebih sulit, para siswa akan lebih mudah mengerjakan soal unas.

Hasil mengecewakan tersebut patut menjadi perhatian kita semua, baik oleh dinas pendidikan, sekolah, guru, siswa maupun orang tua. Apalagi, unas tahun ini yang mengusung moto jujur dan kredibel menjadi taruhan berbagai pihak. Karena itu, Kemendiknas dan Polri sepakat memperketat pengawasan 24 jam sejak pencetakan soal hingga pengawasan ujian pada hari H.

Bahkan, bersama Mendiknas 33 kepala dinas pendidikan (Kadispendik) provinsi seluruh Indonesia sepakat merealisasikan unas jujur dan kredibel dengan menandatangani pakta kejujuran unas. Dengan meneken pakta itu para Kadispendik siap menerima sanksi jika terjadi kecurangan di daerahnya. (Jawa Pos, 5-03-2010)

Lantas apakah mekanisme pengawasan berbeda dan penandatanganan pakta kejujuran akan menghilangkan permasalahan dalam unas? Sebab, peluang sekecil apa pun dapat digunakan untuk melakukan kecurangan.

Fakta membuktikan guru selalu terlibat kecurangan dalam unas. Guru membantu dengan berbagai cara agar siswanya lulus. Ini supaya guru tidak disebut gagal dalam proses pembelajaran. Guru telah melakukan perselingkuhan dalam proses pendidikan sehingga tingkat kejujuran unas begitu rendah.

Data yang dirilis Kemendiknas menunjukkan begitu rendahnya tingkat kejujuran sekolah di Jatim. Di antara 38 kabupaten/kota di Jatim, hanya enam daerah yang memiliki angka kujujuran relatif tinggi. Bila dipersentase, dari seluruh sekolah yang ada di daerah itu, angkanya melebihi 50 persen. Enam kabupaten/kota tersebut adalah Kota Malang, Kota Madiun, Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Pasuruan, Kabupaten Blitar, dan Kota Batu. (Jawa Pos, 802-2010)

Unas masih menjadi momok mengerikan bagi siswa, guru, dan orang tua. Karena unas menjadi salah satu syarat penentu kelulusan siswa, langkah apa pun akan dilakukan agar siswa dapat melewatinya.

Banyak persiapan dilakukan siswa, guru, dan orang tua dalam menghadapi unas. Mulai menambah les pelajaran, menambah jam bimbingan belajar di sekolah, tryout, doa bersama, pemampatan jam pelajaran selain unas, sampai pada pemberian hipnoterapi agar siswa lebih fokus dan percaya diri menghadapi unas.

Melalui unas integritas sekolah dipertaruhkan. Siswa dapat mencapai standar kelulusan atau tidak. Sekolah masuk kategori kualitas baik atau buruk. Nama sekolah menjadi taruhan. Mungkin guru dan pihak sekolah akan "berusaha" agar siswanya mencapai standar kelulusan yang ditetapkan.

Maka tidak akan ada artinya pakta kejujuran yang ditandatangani Kemendiknas dan Kadispendik provinsi seluruh Indonesia. Kalau hal itu tidak dibarengi mental yang jujur dan baik dari guru. Ini karena guru merupakan ujung tombak dalam proses penyelenggaraan unas.

Ada tiga hal penting yang bisa dilakukan guru dalam mempertahankan jati diri guru dan integritas sekolah tanpa harus mencederai unas. Pertama, guru harus tetap berpegang teguh pada tugas pokok dan fungsinya. Yaitu, mendidik, melatih, dan mengajar. Guru yang selalu mengedepankan proses pembelajaran yang dinamis dan kondusif menghasilkan siswa berprestasi.

Kedua, guru harus bersama-sama bekerja keras dan memiliki tanggung jawab moral dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Melalui pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Hal ini merupakan proses yang lebih baik daripada membantu siswa dengan cara yang tidak terpuji dalam unas.

Ketiga, guru harus berlaku jujur dan membekali serta menanamkan kejujuran pada siswa. Kejujuran memang mudah diucapkan, tapi begitu sulit dalam dipraktikkan. Kejujuran harus dikedepankan dalam unas daripada sekadar mendapatkan nilai tinggi. Apalah artinya pencapaian nilai tinggi, tapi tidak diiringi dengan moral dan akhlak yang baik.

Usia siswa sekolah merupakan usia yang paling efektif dalam pembentukan karakter siswa. Pembentukan nilai hidup harus menjadi syarat utama menjadikan pendidikan yang berkualitas. Penanaman nilai hidup ini harus dibentuk sejak dini.

Sangat menarik untuk direnungkan sindiran A.S. Laksana dalam tulisannya Tentang Bangsa yang Gagal Belajar di ruang putih 21 Februari lalu. Oleh Laksana sekolah diibaratkan pabrik dan guru adalah buruhnya. Guru bekerja hanya untuk mendapatkan uang, seperti buruh di pabrik biskuit atau pabrik tahu.

Di pabrik yang baik anak kita (siswa) bisa diolah menjadi biskuit yang lezat atau keripik yang gurih dan renyah atau menjadi tahu nomor satu. Sebaliknya, di pabrik yang bekerja asal-asalan mereka bisa menjadi biskuit beracun atau tahu masam yang akan membuat perut kita mules-mules.

Guru mempunyai kewajiban membentuk karakter siswa sehingga menjadi generasi yang mampu survive dalam menghadapi sebuah tantangan. Tidak malah menjerumuskan siswa menuju generasi rapuh dengan selalu "melayani" siswa yang terkadang tanpa disadari dapat merusak sikap, moral, dan akhlak siswa. (*/mik)

Abdul Majid Hariadi, Pendidik SMKN 1 Sidoarjo

A.S. Laksana, Jawa Pos, [ Minggu, 01 November 2009 ]


Kesia-siaan
Oleh : A.S. Laksana

Satu pertanyaan: apa yang sesungguhnya tengah mereka sampaikan kepada kita? Atau, dalam rumusan yang lain, apa yang bisa kita baca dari setiap ''ayat'' yang dibentangkan di depan batang hidung kita?

Saya kira kita akan mendapatkan dua model jawaban untuk pertanyaan di atas. Dalam cara membaca yang gelagapan, misalnya, yang dikuasai oleh pikiran gelap dan perasaan putus asa, kita akan melihat bahwa segala sesuatunya sungguh mencemaskan. Hidung kita akan terus-menerus mencium bau bangkai, yakni sesuatu yang busuk dan menjijikkan, yang pada akhirnya akan kentara juga sekalipun ada upaya untuk menyelimutinya rapat-rapat. Dalam cara pandang yang gelap semacam ini, kita akan dengan cepat meyakini bahwa putusan hukum adalah produk konspirasi, hasil kerja sebuah komplotan. Cara berpikir seperti itu akan membuat kita seperti memikul kutukan sepanjang hayat dan putus asa mencari keadilan.

Sebaliknya, dalam cara membaca yang lebih terang, kita akan menarik kesimpulan yang lebih optimistis, yakni bahwa negeri ini tak pernah kehabisan stok orang-orang pemberani. Lihatlah, mereka dengan enteng dan penuh nyali melibat-libatkan nama SBY, presiden yang mendapatkan mandat langsung dari rakyat, dalam petualangan mereka untuk menelan cicak dan menjegal upaya penegakan hukum.

Saya tidak tahu apakah penyebutan nama SBY dalam pembicaraan yang direkam diam-diam antara Anggodo Widjojo dan ''Yang''-nya bisa dimasukkan dalam kategori pencatutan nama. Anda bisa menguji sendiri hal itu -transkrip rekaman pembicaraan itu kini sudah beredar luas- dan menyimpulkan sendiri apakah itu termasuk pencatutan atau bukan. Atau sekadar percakapan antara dua orang ''anggota komplotan'' untuk saling berbagi kabar gembira mengenai perkembangan terakhir manuver mereka. Simak potongan transkrip berikut antara Anggodo (A) dan seorang wanita (W):

W: Pokoknya harus ngomong apa adanya. Kalau tidak begitu, kita yang mati. Soalnya sekarang dapat dukungan SBY. Ngerti, ga?

A: Siapa?

W: Kita semua. Pak Ritonga. Pokoknya didukung. Jadi KPK nanti ditutup. Ngerti ga?

---

Entah apakah percakapan semacam ini akan menggerogoti mandat yang diberikan kepada SBY, tetapi saya kira ini penting untuk diperjelas. Sebab, penyebutan nama SBY dalam percakapan itu, sebanyak tiga kali dalam keseluruhan transkrip, menurut saya, lebih terasa sebagai semacam pemberian dorongan, atau sebuah upaya membesarkan hati dari seorang anggota komplotan kepada koleganya.

Dalam pemahaman saya, pencatutan nama seseorang biasanya digunakan untuk menggertak pihak lain, atau menakut-nakuti, demi mendapatkan hak istimewa dalam urusan tertentu. Saya, misalnya, untuk menghindari surat tilang oleh polisi lalu lintas yang menangkap saya atau agar saya tidak usah membayar sogokan kepadanya, bisa saja mengaku-aku bahwa saya adalah sepupu kepala kodim atau anak angkat Kapolres atau utusan khusus presiden untuk tugas rahasia.

Dalam kasus percakapan Anggodo, adik Anggoro Widjojo (buron KPK dalam kasus korupsi sistem komunikasi radio terpadu Departemen Kehutanan), saya tidak melihat siapa sedang menggertak siapa. Mereka, yakni Anggodo dan sejumlah orang yang bergandeng tangan dengannya, adalah teman baik. Yang mereka lakukan adalah membicarakan strategi untuk langkah yang harus mereka lakukan -dengan penekanan, sudah dapat dukungan SBY.

Namun, apa pun sebutannya -entah pencatutan atau pemberian motivasi- isi percakapan itu sungguh membuat kita miris. Anda bisa melihat bagaimana mereka dengan sangat enak memasukkan SBY sebagai bagian dari mereka, sebuah komplotan yang bekerja di wilayah gelap sistem peradilan kita, untuk meruntuhkan KPK.

Untuk kehidupan yang sepahit inikah para pendahulu kita, laki-laki dan perempuan, dulu melakukan perlawanan dan kemudian mengumumkan kemerdekaan bangsa? Apakah sebuah perjuangan untuk membebaskan diri adalah sebuah tindakan naif belaka dari anak-anak muda waktu itu yang serbatergesa, yang tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak punya kecakapan untuk mengurus diri sendiri?

Di timur matahari mulai bercahya....

Saya sungguh merindukan fajar hari baru yang bisa memberi kita pikiran jernih. Saya merindukan pemerintahan yang bersahabat kepada orang-orang melarat, sebuah pemerintahan yang tahu cara menumbuhkan pikiran-pikiran besar di benak semua warganya, yang mampu memberikan kesempatan kepada siapa saja yang mau bekerja secara benar untuk memperbaiki kualitas hidup. Saya mengharapkan pemerintahan yang bisa melindungi warga sehingga mereka tidak telantar di negeri sendiri dan tidak dianiaya di negeri orang.

Tampaknya ada yang patut kita ragukan terus-menerus, kenapa bangsa ini kedodoran mengurus dirinya sendiri. Kualitas hidup kita hari ini semakin jauh dari apa yang dicita-citakan. Dan sebagian besar di antara kita, diwakili para politisi yang sibuk menggemukkan diri sendiri, seperti tidak sanggup berpikir jangka panjang.

Jadi, dari mana kita akan mulai berbenah? Mestinya kita sangat berharap kepada sekolah-sekolah yang kini tengah menggodok anak-anak kita: untuk dijadikan apa?

Sistem pendidikan kita, yang menyumbang sumber daya manusia di semua lapangan, sejauh ini baru bisa menyodorkan kepada kita lulusan-lulusan yang serbagagal memperbaiki kualitas diri mereka sendiri. Itu membuat kita hanya bisa menyaksikan keberjayaan mediokritas (kesedang-sedangan) di sembarang bidang -dari lapangan sepak bola sampai panggung politik. Hari ini, apa boleh buat, kita semua sedang merayakan kemenangan mediokritas di atas virtuositas.

Dan, berpikir tentang sistem pendidikan kita, dalam dua hari berturut-turut saya dihantam oleh dua berita kecil yang saya baca di koran. Berita pertama, penelitian menyimpulkan bahwa lulusan sekolah kita berada di bawah standar internasional. Berita kedua, yang saya baca pada hari ketika saya merampungkan tulisan ini, menceritakan peristiwa lucu dalam ujian tengah semester di sekolah dasar. Dalam materi ujian bahasa Indonesia untuk kelas VI di Sidoarjo, ada sebuah soal yang sungguh mencengangkan, bunyinya: ''Pengusaha bandel dikerangkeng bareng Mak Erot.'' Pada alinea terakhir artikel tersebut, muncul kalimat, ''Pengusaha nakal diucluk-ucluk, karo biasane dibalsem teronge... I love U full.''

Sebuah kegilaan? Mungkin kekhilafan. Dan di negeri ini kita banyak sekali menyaksikan kekhilafan dalam berbagai bentuk. Dan, kita tak bisa apa-apa ketika kekhilafan itu terjadi terus-menerus dan sudah menjadi sangat lumrah.

Terus terang, saya tidak suka membayangkan negeri ini serupa dengan perempuan sia-sia yang dicontohkan dalam kitab suci. Ia adalah perempuan yang memintal benang di siang hari untuk menjadikannya kain dan menguraikan benang yang sudah dipintal kuat-kuat itu pada malam hari untuk membuat kain itu tercerai berai kembali. Dan dalam penegakan hukum, kita tampaknya tengah melakukan hal itu. Atau begitu juga dalam banyak wilayah yang lain? (*)

*) A.S. Laksana, cerpenis, aslaksana@yahoo.com

A.S. Laksana, Jawa Pos, Minggu, 25 Oktober 2009


Dongeng Kegelapan
Oleh A.S. Laksana

Dari dongeng anak-anak, Anda bisa belajar tentang banyak hal yang tidak terjadi di dunia orang dewasa. Berkaitan dengan kekuasaan, misalnya, kita disuguhi cerita mengenai singgasana raja yang di atasnya tergantung sebilah pedang telanjang. Pedang tersebut hanya diikat oleh seutas benang tipis yang akan putus jika sang raja memperlakukan kekuasaannya secara berangasan. ''Paduka harus bertindak adil. Benang itu akan putus dan pedang akan membabat leher Paduka jika Paduka bertindak ugal-ugalan di atas singgasana,'' kata penasihat kerajaan.

Di dunia orang dewasa, Anda tidak melihat kekuasaan sebagai singgasana yang semacam itu. Ia sering terlihat bukan sebagai amanat yang mengandung sejumlah prasyarat dan risiko; ia bukan pula sumber keadilan. Kekuasaan, dalam nalar yang sempit, adalah sebuah tambang emas yang harus dikeduk sebanyak-banyaknya dengan tabiat politik secanggih-canggihnya. Tambang emas seperti itu -yang akan membuat Anda makmur sampai ke anak cucu -tentu saja harus direbut dengan segala cara. Karena itu, Anda tidak boleh bengong saja jika tambang emas yang Anda incar tersebut jatuh ke tangan orang lain; rayakan kekalahan Anda dengan membuat keruwetan. Mana menarik kalau pesta pilkada tidak diikuti dengan kericuhan?

Saya yakin, jika seorang pemimpin menganggap kekuasaan adalah tambang emas atau kekayaan alam warisan dari paman moyangnya, Anda tak bisa berharap keadilan dari dirinya. Kekuasaan, dalam cara pandang seperti itu, hanya akan menjadi sumber ketidakadilan. Sedangkan ketidakadilan, kata seseorang, adalah jurang gelap yang tak terukur dalamnya. Karena itu, ia selalu menyampaikan kepada siapa saja untuk berlaku adil. Orang itu, Muhammad, melihat bahwa cinta kasih yang ditanamkan beberapa abad sebelumnya oleh sang pendahulu, Isa al-Masih, sering menjadi makanan empuk bagi ular beludak yang ngendon di dada orang-orang.

Jika Anda -dengan penuh kasih- memberikan pipi kanan karena pipi kiri Anda ditampar, orang yang memelihara ular beludak di dadanya itu mungkin akan merobek perut Anda dan meminta jeroan Anda. ''Karena itu, balaslah jika kau dinista,'' serunya. ''Balaslah dengan adil.''

Sedemikian pentingnya keadilan dan sebegitu nistanya ketidakadilan, sampai-sampai kata ''ketidakadilan'' dan sejumlah turunannya -menurut teman saya yang khusyuk mendalami agama- perlu diulang-ulang sebanyak 289 kali dalam sejumlah ayat di dalam Alquran. Ketidakadilan merupakan penyakit yang merontokkan pertumbuhan manusia, menjegal segala proses menuju kebaikan, meremukkan aktivitas, dan melumpuhkan kecerdasan manusia yang mendapatkan mandat sebagai khalifah di muka bumi.

Namun, sampai hari ini, ketika anjuran untuk bertindak adil itu sudah berabad-abad usianya, keadilan tetap menjadi sesuatu yang tak mudah dijalankan. Ketidakadilan terus-menerus menyeret orang ke arah kemasabodohan, dan kemasabodohan membenihkan kemelaratan yang luar biasa, penaklukan, dan rusaknya tertib sosial. ''Kau harus menjadi kaya raya agar bisa membunuh tanpa hukuman,'' kata Jack Nicholson sebagai Gittes, tokoh utama dalam film Chinatown, garapan sutradara Roman Polanski.

Pernyataan tersebut benar ketika kita hidup di bawah kekuasaan yang diniatkan untuk ugal-ugalan, hukum yang rapuh, dan lembaga peradilan yang begitu mudah disogok. Anda tahu, itu semua adalah selokan yang membawa manusia ke arah situasi gelap gulita yang memalukan. Pidato-pidato politik pasti akan dipenuhi kebohongan, apalagi ketika menyebut tema kemajuan bangsa.

Sepanjang sejarah umat manusia, kemajuan selalu berasosiasi dengan keadilan dan kebangkrutan umat manusia selalu merupakan hasil dari ketidakadilan. Kita tidak bisa mengupayakan kemajuan sambil leyeh-leyeh membiarkan ketidakadilan. Sebab, kemajuan dan ketidakadilan merupakan dua hal yang saling bertentangan. Ketidakadilan seperti gurita raksasa yang menjulurkan belalai-belalai jahatnya untuk membuat kerusakan dan membawa manusia pada kegelapan.

Namun, tak usah terlalu risau tentang kegelapan. Anda bisa belajar bagaimana cara mengusir kegelapan dengan membaca dongeng menarik karya Hans Christian Andersen tentang gadis kecil penjual korek api yang menggigil di tengah salju.

Sampai gelap turun, korek apinya masih utuh; dia lalu menepi di emperan sebuah gedung. Lapar menyiksa perutnya dan dingin menyerangnya semakin ganas.

Untung, dia memiliki sumber cahaya ketika gelap dan dingin makin menyiksa. Dibukanya korek apinya. Dia nyalakan sebatang. Pada cahaya yang memancar dari kepala korek api itu, dia menyaksikan ruang hangat yang hilang lagi pada saat batang korek habis terbakar dan api padam. Dia nyalakan lagi sebatang: matanya menyaksikan sebuah pesta dan meja yang penuh makanan. Api kembali padam ketika dia menjulurkan tangannya untuk meraih hidangan tersebut. Lekas-lekas dinyalakannya lagi korek apinya.

Kini dia berada di antara orang-orang yang menari mengikuti irama musik. Gadis kecil itu terpesona pada segala keindahan yang tergelar di sekelilingnya. Pemandangan itu pun hanya sebentar; dia tercampak lagi di emperan ketika api padam. Akhirnya, dia menyalakan koreknya bersambung-sambung dan tak membiarkan api padam; dia ingin menjaga agar segala keindahan itu tak lari lagi dari matanya.

Pada batang yang penghabisan, dia melihat neneknya secantik bidadari turun dari langit dan menyentuh bahunya. ''Ketika kecil kau kutimang,'' kata neneknya. ''Sekarang biarkan aku menimangmu sekali lagi.'' Dalam gendongan neneknya, si gadis terbang memasuki gerbang langit. Dongeng pun berakhir: pagi-pagi orang-orang menemukan tubuh mungilnya dingin dan membeku di emperan.

Menurut saya, gadis itu mujur sekali. Sebelum kematian merenggutnya, dia menemukan cahaya -sesuatu yang mungkin tidak didapat oleh anak-anak sekolah yang nekat mengalungkan tali gantungan ke leher mereka. Di tengah kegelapan yang menistakannya, gadis kecil itu masih bisa menyaksikan sebuah dunia lain yang hangat dan ramah, dunia yang sangat dirindukannya.

Gadis kecil itu mempunyai korek api, sumber cahaya yang diperlukannya untuk mengalahkan malam yang gelap dan dingin. Dengan cahayanya, dia mendatangkan bidadari dari langit, serupa nenek yang mengasihinya; dan bidadari itu membopongnya ke sebuah tempat terang yang tak akan lagi membiarkannya dingin dan lapar.

Cerita itu mengilhamkan sesuatu kepada saya bahwa rupa-rupanya kegelapan adalah sesuatu yang lemah dan bebal. Sepekat apa pun kegelapan, ia tak bisa menyembunyikan nyala korek api. Cahaya selalu lebih kuat ketimbang kegelapan itu. Seorang bijak yang lain, Siddharta Gautama, sudah lama mengingatkan kita tentang hal itu: Jadilah lampu bagi dirimu sendiri. (*)

*) A.S. Laksana, cerpenis, aslaksana@yahoo.com

A.S. Laksana, Jawa Pos, Minggu, 02 Mei 2010


Kumis Bersaudara dan Politik yang Runyam


KARENA telanjur memamah klise bahwa politik adalah dunia kotor, maka saya menerima pernyataan tersebut dengan ketaatan orang saleh yang mempercayai takdir. Saya merasa tidak perlu mempertanyakan apa pun: misalnya, kalau memang kotor, apakah keadaannya sekotor isi kepala para politisi yang silang susup di dalamnya? (Pertanyaan ini diajukan dengan prasangka baik bahwa kepala mereka memang ada isinya.) Atau apakah itu dunia yang sama kotornya dengan manuver orang-orang yang mabuk kekuasaan, atau gila kekuasaan, atau sadar kekuasaan --mana dari ketiga istilah itu yang lebih tepat dengan kondisi negeri kita?

Tetapi saya tiba-tiba juga merasa perlu meragukan bahwa jangan-jangan pernyataan itu, yang semula adalah cemooh, sekarang justru menjadi tameng bagi para politisi untuk membenarkan tabiat apa pun yang mereka pertontonkan. Jadi, jika ada politisi yang kesandung-sandung korupsi, padahal ia dari partai yang gemar berdakwah, itu akan dianggap wajar terjadi karena dunia politik memang kotor. Demikian pula jika ada politisi dari partai tidak gemar berdakwah yang melakukan pelecehan seksual di ruang kerjanya, itu wajar juga karena dunia politik memang kotor.

Karena ruwet dengan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab di negeri sendiri, saya ''melarikan diri'' ke hikayat politik negara-negara lain, siapa tahu bisa menemukan yang lebih kotor dari praktik politik di negeri kita, syukur-syukur banyak, setidaknya itu akan membuat saya bisa menenteramkan diri sendiri: Lihatlah, masih ada negara-negara lain yang lebih kotor dari kita. Jadi kita ini relatif bersih, dong.

Tapi dalam hal apa kita bisa membanggakan diri ''relatif bersih''? Survei PERC menyebutkan bahwa dalam daftar 16 negara Asia yang menjadi tujuan investasi, Indonesia adalah negara paling korup. Peringkat ke-15 Thailand. Singapura negara terbersih, dan bagaimanapun saya merasa tidak rela. Nama negeri mungil ini sering sekali muncul dalam berita-berita yang berkaitan dengan korupsi di Indonesia. Para koruptor lari ke sana. Para pengusaha nakal melarikan uangnya ke sana. Ketika koruptor perlu berpura-pura sakit, mereka ke Singapura. Rasa-rasanya negeri ini sangat ramah kepada para koruptor dari negeri kita. Tetapi ketidakrelaan saya itu tentu tidak ada relevansinya dengan survei PERC; itu hanya ekspresi emosional semata.

Sekarang, karena susah membanggakan reputasi dalam soal korupsi, saya akhirnya mencari pembanding sekenanya dan pilihan saya jatuh pada negeri Myanmar. Negeri ini diperintah oleh junta militer yang benar-benar ndableg, tetapi untunglah tampaknya tidak banyak pihak asing yang punya kepentingan ekonomi di sini, sehingga junta militer bisa terus tegak dengan tabiat ndableg-nya. Di negeri ini, Anda tahu, pernah ada masa ketika orang-orang tak banyak lagi tertawa, sebab para pelawaknya sudah enggan membanyol. Itu adalah reaksi atas pemenjaraan dua pelawak dari kelompok Kumis Bersaudara pada tahun 1996.

Suatu hari, di salah satu pementasan, mereka membuat lelucon politik. Karena itu mereka dituduh, ''menyebarkan berita bohong!'' dan harus meringkuk di sel penjara selama tujuh tahun. Setelah dibebaskan, mereka kini menggelar pementasan ''bawah tanah'' di rumah mereka, di depan sedikit penonton yang biasanya adalah wisatawan.

Di negeri ini, Anda tahu, politik adalah wilayah yang runyam dan bisa sangat berbahaya, sebab hal yang paling keji bisa terjadi di sana: pembunuhan. Tetapi mungkin bukan hanya di Myanmar. Dan, jika kita bicara pembunuhan di dunia politik, Anda akan melihat bahwa sesungguhnya tak ada politik, di negara mana pun, yang bebas dari pembunuhan. Sejarah dunia, Anda tahu, dibangun oleh kehidupan luar biasa dan juga kematian-kematian tak terduga.

Sejarah Eropa pun kuyup dengan pembunuhan politis, mulai dari pembunuhan ''sang tiran'' Julius Caesar di tahun 44 SM sampai penembakan Pangeran Franz Ferdinand dari Kerajaan Austro-Hungaria di tahun 1914. Presiden-presiden AS yang kharismatik, Abraham Lincoln dan John F. Kennedy, juga mati dibunuh. Pemimpin-pemimpin moderat pun sering menjadi korban kemarahan rakyat mereka sendiri yang memandang mereka telah mengkhianati prinsip. Ingatlah Mahatma Gandhi. Kematiannya yang terlalu cepat tidak dirancang oleh lawan-lawan politiknya atau oleh kaum ekstremis non-Hindu. Pembunuhan itu dilakukan sendiri oleh seorang Hindu fanatik yang menganggap bahwa Gandhi terlalu memihak orang Islam.

Tentang Myanmar, kita akan melihat mata rantai bunuh-membunuh yang agak mirip dengan sejarah Ken Arok dan Kerajaan Singasari. Dalam sejarah Myanmar Kuno, pembunuhan raja adalah hal yang umum. Kosa kata Burma ''loke-kyan'', yang berarti ''berkomplot'' atau ''membunuh'', dipakai terutama untuk melukiskan pembunuhan terhadap seorang raja. Sebut misalnya, di masa awal Dinasti Pagan (1044-1287), Raja Anawrahta meraih tahta di tahun 1044 setelah membunuh saudara angkatnya, Sokka-te. Konon Anawrahta menantang saudaranya, Sokka-te, untuk bertarung satu lawan satu dan menombaknya. Sejarawan kuno Burma, U Kala, dalam kitab Mahayazawingyi (Riwayat Raja-Raja Besar), setelah melukiskan pertarungan satu lawan satu yang tidak disaksikan oleh satu orang pun, menambahkan bahwa ''Anawrahta sulit tidur selama enam bulan karena menyesal telah membunuh saudaranya.''

Dari apa yang dilakukan oleh Anawrahta, lahirlah sebuah preseden bagi seluruh pembunuhan politis berikutnya dalam budaya politik Burma. Raja keempat Dinasti Pagan, si gaek Alaungsithu (1112-67), dibunuh oleh anaknya sendiri. Narathu, sang pembunuh bapak, hanya tiga tahun memerintah dan kemudian juga mati dibunuh di tahun 1170. Bahkan, di saat Dinasti Pagan hancur oleh invasi tentara Tartar, Raja Narathihapate (memerintah tahun 1254-1257), yang lari dari kejaran pasukan Tartar, dipaksa meminum racun oleh anaknya sendiri, Thihathu, di tahun 1287.

Hal seperti itu terus dilanjutkan oleh oleh aktor-aktor baru. Dalam sejarah mutakhirnya, Myanmar memiliki seorang pemimpin bernama U Saw, seseorang yang merindukan hal-hal yang anakhronistik dan memiliki hasrat kuat untuk kembali ke masa silam. Di tahun 1940, ia menduduki posisi nomor satu dengan cara yang lazim ditempuh oleh raja-raja kuno. Setelah memenangi pertarungan, ia mengerangkeng semua lawan politiknya, yakni Dr Ba Maw, U Ba Win, dan U Ba Thi. Ia melakukan hal yang sama terhadap mentornya sendiri, U Ba Pe. Dan ia juga menggelar lagi upacara pembajakan sawah sebagaimana yang dilakukan oleh raja-raja zaman dulu.

Setahun menduduki posisi puncak, U Saw tertangkap oleh tentara Inggris pada Perang Dunia II di Uganda saat mencoba menjalin kontak dengan Jepang, 1941. Jenderal U Aung San, ayah Aung San Suu Kyii, memimpin revolusi militer dan menggantikan posisinya. Setelah dibebaskan, seusai Perang Dunia, U Saw tidak percaya melihat kenyataan bahwa U Aung San, empat belas tahun lebih muda darinya, duduk menggantikan posisinya. Ia kemudian membunuh Aung San dan sekaligus menyingkirkan orang-orang yang ikut membantunya naik lagi.

Kini, negeri itu dikuasai oleh junta militer yang marah terhadap para demonstran dan pelawak. Dan ketika pelawak berhenti membanyol, orang-orang membuat sendiri lelucon mereka. Inilah salah satunya:

Inggris: Ada warga kami yang tidak punya kaki bisa menaklukkan puncak Everest.

Amerika tidak mau kalah: Penduduk kami menyeberangi Samudera Atlantik dengan tangan.

Myanmar: Ah, itu belum seberapa. Negara kami 22 tahun diperintah oleh sekelompok orang yang tak berkepala.

(Indonesia: Ah, itu juga belum seberapa....)

Silakan, Anda masing-masing mempunyai lanjutannya sendiri. Atau mungkin kita memerlukan para pelawak Myanmar untuk membuatkan lelucon tentang negeri kita? Terus terang, saya jemu pada banyolan para pelawak kita. Lawakan pelawak Myanmar mungkin lebih menarik. Lagipula materi lawakan mereka, tentang korupsi dan politik yang runyam tak terlalu asing bagi kita. (*)

*) A.S. Laksana, bertempat tinggal di aslaksana@yahoo.com